Duet “Planter” Tulen di Agrinas Palma Nusantara: Visi Strategis Presiden Prabowo dan Danantara

Duet "Planter" Tulen di Agrinas Palma Nusantara: Visi Strategis Presiden Prabowo dan Danantara
Duet praktisi sawit, Muhammad Abdul Ghani dan Tuhu Bangun, pemimpin baru PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), siap wujudkan kedaulatan sawit dan biodiesel nasional sesuai visi strategis Presiden Prabowo dan Danantara. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) merombak susunan direksi PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) pada 13 Maret 2026 lalu memantik respons positif.

Penunjukan Muhammad Abdul Ghani sebagai Direktur Utama dan Tuhu Bangun selaku Direktur Operasional dinilai sebagai manuver yang tepat sasaran.

Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menyoroti keputusan ini bukan sekadar pergantian kursi kepemimpinan biasa.

Ia menilai, Danantara tengah mengeksekusi visi besar Presiden Prabowo Subianto secara presisi, yakni menyerahkan kendali raksasa sawit pelat merah kepada para ahlinya.

“Amanah yang dimandatkan ini adalah bukti konkret pemerintah. Pos-pos strategis kini diisi oleh figur yang benar-benar lahir dan ditempa dari rahim industri perkebunan.

“Mereka paham denyut nadi di tapak lahan, bukan pejabat yang hanya mengandalkan teori di balik meja rapat,” urai Mahendra, Kamis, 19 Maret 2026.

Meritokrasi dan Insting Tanah

Sebagai institusi pemegang mandat konsolidasi aset strategis negara, pilihan Danantara menduetkan Ghani dan Tuhu dianggap sangat rasional.

Mengingat Agrinas Palma kini menjadi tulang punggung penyokong program swasembada biodiesel serta ketahanan pangan nasional, perusahaan membutuhkan nakhoda dengan insting tanah yang tajam.

Menurut Mahendra, era pemerintahan saat ini menjadikan meritokrasi berbasis pengalaman lapangan sebagai standar baku.

Kebijakan tersebut otomatis mengirimkan sinyal positif, baik kepada pelaku pasar maupun ribuan karyawan perkebunan di seluruh Indonesia.

“Ini pesan yang jelas bahwa profesionalisme dan kompetensi adalah kunci utama untuk memacu transformasi BUMN kita,” tegasnya.

Strategi dan Eksekutor

Membedah rekam jejak keduanya, Mahendra menyebut komposisi direksi baru ibarat perpaduan ideal antara arsitek strategi dan eksekutor tangguh.

Muhammad Abdul Ghani membawa perspektif kepemimpinan yang matang.

Pengalamannya menakhodai Holding PTPN III periode 2020–2025 membuktikan kapasitasnya dalam mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir.

Rekam jejak tersebut menjadi modal untuk menjaga kelincahan skala ekonomi Agrinas Palma di tengah gempuran dinamika pasar global.

Sementara itu, kursi Direktur Operasional yang dipercayakan kepada Tuhu Bangun menyuntikkan energi planter trengginas.

Merintis karier benar-benar dari bawah di PTPN V Riau sejak 1991, Tuhu telah kenyang memakan asam garam operasional dari Sumatra, Kalimantan, hingga Jawa Timur.

“Sosok Tuhu adalah eksekutor lapangan yang andal.

“Dia sadar betul bahwa kesuksesan visi Kepala Negara di sektor ini sangat bergantung pada tonase produktivitas Tandan Buah Segar (TBS), sekaligus memastikan terjaminnya kesejahteraan mandor dan buruh di ujung afdeling,” papar Mahendra.

Hilirisasi Biofuel

Secara teoretis, kebijakan Presiden Prabowo melalui Danantara dinilai berpijak pada landasan logika manajemen yang solid.

Formasi ini memenuhi kaidah Human Capital Theory, di mana jam terbang tiga dekade milik kedua direktur tersebut menjadi aset tak ternilai bagi negara.

Selain itu, prinsip the right man on the right place benar-benar diaplikasikan demi mengawal target hilirisasi biofuel.

Kehadiran para pemimpin yang tumbuh dari aroma tanah perkebunan ini memantik optimisme baru.

“Kita patut mengapresiasi keberanian pemerintah memberi ruang bagi profesional murni.

“Indonesia butuh lebih banyak kebijakan yang membumi, sebab kedaulatan ekonomi selalu berawal dari kualitas pengelolaan lahan dan sejahteranya orang-orang yang merawatnya,” pungkas Mahendra.