Doa dan Dzikir Habib Syech: Getaran Spiritual Warga Lampung Mohon Hujan

Doa dan Dzikir Habib Syech: Getaran Spiritual Warga Lampung Mohon Hujan
Kolase rangkaian Salat Istisqa dan majelis dzikir akbar bersama ulama kharismatik Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf serta Gubernur Rahmat Mirzani Djausal di Lampung. Foto: Arsip Adpim/Istimewa/Kirka/Iz

Kirka – Langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memadukan penanganan teknis di lapangan dengan pendekatan spiritual guna mengatasi kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbuah manis.

Rangkaian munajat hingga gelaran dzikir akbar bersama ulama kharismatik Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf berujung pada turunnya hujan deras di berbagai penjuru Bumi Ruwa Jurai.

Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama, mengapresiasi kesungguhan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang menyatukan instrumen teknologi dengan kekuatan doa masyarakat.

“Kepemimpinan yang peduli tampak saat kepala daerah mampu menggabungkan ikhtiar fisik dan teknologi bersama kepasrahan doa kepada Sang Pencipta.

“Gubernur menunjukkan keteladanan lewat kerja keras memadamkan api di darat sembari mengetuk pintu langit bersama ribuan warga,” kata Mahendra Utama, Minggu, 25 Oktober 2026.

Upaya batiniah jajaran pemerintah daerah telah bergulir sejak pelaksanaan Salat Istisqa pada 10 September 2026 silam.

Kala menghadapi ujian kekeringan dan ancaman titik api, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengajak seluruh lapisan warga berbenah diri melalui muhasabah serta memperbanyak istighfar.

Puncak rangkaian munajat berlangsung ketika Gubernur menghadirkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf guna memimpin majelis dzikir dan shalawat di dua daerah.

Ribuan jamaah tampak memadati lokasi acara di Kabupaten Pringsewu pada Jumat (23/10/2026), kemudian berlanjut di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung pada Sabtu (24/10/2026).

Menurut Mahendra, kehadiran lautan manusia di dua panggung terbuka melampaui batas seremonial keagamaan biasa.

Masyarakat datang membawa pengharapan tulus, sejalan dengan pesan Habib Syech di hadapan jamaah bahwa manusia memiliki kewajiban memohon kepada Allah SWT, sedangkan hasil dari doa diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Sang Khalik.

“Getaran spiritual warga begitu terasa karena berpijak pada keyakinan yang kuat.

“Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Nuh ayat 10 sampai 12, permohonan ampun atau istighfar dari hamba-Nya akan dibalas dengan curahan hujan lebat.

“Tuntunan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari nomor 1014 juga mengajarkan umat memohon turunnya hujan sebagai wujud tawakal setelah ikhtiar maksimal,” ujar Mahendra menjelaskan.

Tak berselang lama seusai gema shalawat dan doa membumbung dari Pringsewu hingga Lapangan Saburai, guyuran hujan lebat membasahi sejumlah wilayah di Provinsi Lampung.

“Suasana haru dan rasa syukur seketika mengalir dari warga di berbagai kabupaten/kota yang berbulan-bulan terdampak cuaca panas ekstrem.

Warga Kabupaten Lampung Tengah, Nur Imam, mengungkapkan rasa lega saat air hujan kembali membasahi tanah tempat tinggalnya.

“Terima kasih ya Allah atas keberkahan hujan-Mu. Terima kasih Habib Syech yang memimpin doa,” ucap Nur Imam.

Ungkapan sukacita senada turut disampaikan Feriyan asal Kemiling, Bandar Lampung, serta Hendri di Kabupaten Lampung Timur.

Mahendra menegaskan bahwa meredanya ancaman kekeringan dan karhutla merupakan buah kolaborasi lintas sektor yang patut mendapat penghormatan.

“Apresiasi setinggi-tingginya patut kita berikan kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, Habib Syech, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta seluruh petugas gabungan di lapangan yang berjibaku memadamkan karhutla sekaligus bersimpuh memohon turunnya rahmat hujan,” tutur Mahendra.