Kirka – Provinsi Lampung kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah perdagangan internasional.
PT Selaras Mitra Sarimba (SMS) resmi melepas ekspor perdana Palm Kernel Expeller (PKE) atau bungkil inti sawit sebanyak 14.000 ton tujuan Selandia Baru, Jumat, 3 Juli 2026.
Nilai transaksinya terbilang fantastis, menembus angka Rp20 miliar.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai langkah strategis tersebut merupakan momentum penting bagi penguatan posisi Lampung sebagai pemasok komoditas perkebunan berkualitas dunia.
Terlebih, negara tujuan ekspor dikenal menerapkan standar mutu dan regulasi pakan ternak yang sangat ketat.
“Pencapaian ekspor perdana bukan sekadar soal nominal, melainkan bukti sahih daya saing produk turunan sawit daerah kita telah diakui pasar negara maju.
“Tentu sebuah wujud nyata keberhasilan hilirisasi yang patut diapresiasi,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 3 Juli 2026.
Sebagai informasi, PKE merupakan produk sampingan dari ekstraksi minyak inti sawit yang bernilai ekonomi tinggi untuk bahan baku pakan ternak.
Keberhasilan menembus standar global dinilai sangat selaras dengan visi transformasi ekonomi dari Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.
Pemerintah Provinsi Lampung memang terus berupaya mengoptimalkan hilirisasi sektor hulu.
Potensi kekayaan alam dari padi, jagung, singkong, nanas, pisang, kopi, hingga tebu diproyeksikan bernilai lebih dari Rp100 triliun.
Angka raksasa yang masih belum diolah optimal itu kini didorong agar tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah.
Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Mirza kerap menekankan hilirisasi sebagai jalan pintas menciptakan nilai tambah.
Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antar lembaga demi mewujudkan iklim usaha yang kondusif bagi para eksportir.
“Sinergi lintas sektoral seperti ini adalah kunci, di mana pengusaha merasa aman berinvestasi dan produk kita memiliki legitimasi kesehatan yang diakui dunia,” tegas Mirza.
Faktanya, pengiriman komoditas PT SMS tak lepas dari sinergi erat antar instansi.
Proses pelepasan kargo turut dikawal langsung oleh jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Perkebunan, KPPBC TMP B Bandar Lampung, KSOP Kelas I Panjang, serta Pelindo Regional II Panjang.
Melihat solidnya kolaborasi struktural dari hulu ke hilir, Mahendra optimistis tren positif bakal berlanjut ke komoditas unggulan lainnya.
“Ketika pemerintah daerah, otoritas pelabuhan, dan bea cukai bahu-membahu mempermudah akses pasar global, cita-cita menjadikan hilirisasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Lampung akan terwujud lebih cepat.
“Hari ini kita bicara sawit, besok produk lain harus menyusul langkah serupa,” pungkas Mahendra.






