Kirka – Satu dekade kepemimpinan Bupati Dendi Ramadhona (2015-2025) membawa perubahan fundamental bagi wajah ekonomi Kabupaten Pesawaran.
Menggeser dominasi tunggal sektor agraris, kawasan penyangga Kota Bandarlampung tersebut sukses bertransformasi menjadi kutub baru perdagangan dan jasa.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang lompatan struktur ekonomi Pesawaran sebagai sinyal positif bagi iklim investasi daerah.
Menurutnya, meski agribisnis tetap menjadi tulang punggung dengan sumbangan 39,11 persen terhadap PDRB pada 2023, sektor non pertanian justru menunjukkan eskalasi paling progresif.
“Diversifikasi ekonomi yang dibangun pemerintah daerah mulai membuahkan hasil nyata.
“Kita melihat pergeseran orientasi yang sangat sehat dari sekadar mengandalkan lumbung pangan menuju geliat sektor tersier,” ujar Mahendra, Minggu, 24 Mei 2026.
Pernyataan tersebut sejalan dengan rekam data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappeda setempat.
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran melonjak hingga 16,16 persen.
Pencapaian serupa diikuti oleh pertumbuhan Industri Pengolahan sebesar 13,34 persen, serta Konstruksi pada level 10,32 persen.
Tren positif itu bahkan memuncak pada Triwulan I tahun 2025, ketika sektor tersier secara meyakinkan melesat di angka 8,34 persen.
Mahendra menganalisis pergeseran struktur ini menggunakan kacamata Teori Harrod Domar.
Dalam perspektif ekonomi makro, teori secara lugas menempatkan investasi sebagai mesin utama pendorong pertumbuhan suatu wilayah.
“Langkah strategis Dendi membenahi infrastruktur perbatasan berhasil memicu multiplier effect di tengah masyarakat.
“Aktivitas perdagangan dan konstruksi langsung merespons, menciptakan ekosistem ekonomi baru di luar lahan pertanian,” papar sosok yang juga merupakan Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung tersebut.
Geliat sektor tersier terbukti berdampak langsung pada tingkat kesejahteraan.
Indikator paling kentara tergambar dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Pesawaran yang menembus angka Rp43,31 juta sepanjang 2024.
Meski capaian makro ekonomi menunjukkan grafik memuaskan, Dendi Ramadhona pada pengujung masa jabatannya tetap mewariskan pesan kehati-hatian.
Dinamika pembangunan membutuhkan estafet kepemimpinan yang sanggup merespons cepat perubahan zaman.
“Pesawaran walau bukan kabupaten besar, tetapi ombaknya besar,” ucap Dendi, memberikan kiasan atas besarnya potensi sekaligus tantangan geografis serta sosial daerahnya.
Kini, ombak besar itu telah membawa Pesawaran berlayar menjauhi ketergantungan absolut pada sektor pertanian.
Berlabuh pada pelabuhan baru sebagai poros dagang yang patut diperhitungkan di pintu gerbang Sumatera.






