Kirka – Tren pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Metro menunjukkan pemulihan yang solid pasca pandemi.
Dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun ke depan, nilai ekonomi kota berjuluk Kota Pendidikan ini diproyeksikan mampu menembus angka Rp10 hingga Rp12 triliun.
Pemerhati Pembangunan Provinsi Lampung, Mahendra Utama, memaparkan bahwa fundamental ekonomi Kota Metro kini lebih kuat dibandingkan sejumlah kabupaten lain di Lampung.
Hal itu terlihat dari konsistensi pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 hingga 6 persen per tahun.
“Berdasarkan data BPS yang kita analisis, PDRB Metro terus naik dari Rp 6,28 triliun pada 2020 menjadi Rp 8,48 triliun di 2024.
“PDRB per kapita juga terkerek dari Rp 40 juta menjadi Rp 48,26 juta.
“Ini indikator nyata adanya perbaikan kesejahteraan masyarakat secara bertahap,” ujar Mahendra, Minggu, 22 Februari 2026.
Perdagangan dan Pendidikan
Mahendra yang juga menjabat sebagai Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindag ini menjelaskan, tren positif tersebut tidak terjadi secara kebetulan.
Terdapat mesin penggerak utama, yakni sektor perdagangan besar dan eceran yang menyumbang sekitar 18 persen dari total PDRB.
Selain perdagangan, status Kota Metro sebagai pusat pendidikan, seperti keberadaan IAIN Metro dan kampus lainnya menciptakan multiplier effect atau efek ganda yang masif terhadap sektor jasa, kesehatan, hingga properti.
“Dalam teori basis ekonomi, perdagangan dan industri kecil di Metro ini adalah sektor unggulan. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tapi juga mengekspor jasa dan barang ke wilayah sekitar seperti Bandarlampung.
“Uang dari luar masuk dan memutar roda ekonomi lokal,” jelasnya.
Terkait kondisi awal tahun 2025, Mahendra tak menampik adanya kontraksi ringan sebesar -0,97 persen pada triwulan pertama.
Namun, ia menegaskan hal tersebut bersifat musiman pasca libur akhir tahun dan belum menjadi alarm bahaya.
Sebaliknya, proyeksi PDRB Metro hingga akhir 2025 diyakini tetap tumbuh menyentuh angka Rp8,7 triliun.
Akselerasi ini diprediksi akan terdorong oleh limpahan realisasi investasi tingkat provinsi yang mencapai Rp12,95 triliun untuk infrastruktur dan fasilitas publik.
Menurut Mahendra, perbaikan konektivitas transportasi dan revitalisasi sarana pendidikan tinggi akan memperkuat posisi Metro dalam jaringan ekonomi regional Lampung.
Awas Salah Kelola
Meski memiliki potensi investasi hingga Rp2 triliun per tahun yang bisa menekan angka kemiskinan di bawah 10 persen, Mahendra memberikan peringatan keras.
Ia menyoroti risiko fatal jika terjadi salah urus (mismanagement) oleh pemerintah daerah.
“Jika gagal mengembangkan sektor unggulan, Metro bisa mengalami stagnasi dan kehilangan potensi pendapatan Rp 1 hingga Rp 2 triliun per tahun.
“Ketimpangan juga berisiko melebar hingga angka kemiskinan bisa naik ke 15 persen jika alokasi dana pembangunan tidak merata,” tegas Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis tersebut.
Ia juga mengingatkan pentingnya pembangunan yang memperhatikan kelestarian lingkungan dan bebas dari praktik korupsi.
Kebocoran anggaran dinilai akan membunuh potensi ekonomi sebelum sempat berkembang.
Sebagai kesimpulan, Mahendra mendorong Pemkot Metro untuk berani berinovasi, khususnya pada sektor ekonomi kreatif, industri kecil berbasis teknologi (digitalisasi UMKM), dan investasi energi hijau.
“Kota Metro sedang berada di persimpangan jalan.
“Potensi menjadi kota maju sangat terbuka, kuncinya ada pada konsistensi infrastruktur dan komitmen pembangunan yang inklusif,” pungkasnya.






