KIRKA – Pengrajin batik Lampung harus kreatif dan inovatif untuk mampu bertahan pasca pandemi Covid-19 dan berdaya saing dengan pengrajin batik dari luar daerah.
“Kalau ingin barangnya laku, mereka harus membuat desain yang bagus, karena desain itulah yang menarik perhatian konsumen,” kata Hj Siti Rahayu saat ditemui di acara Lampung Craft 2022, Sabtu, 22 Oktober 2022.
Pemilik Rahayu Gallery ini menilai perkembangan batik di Lampung sudah cukup baik.
Namun, perlu penguatan sumberdaya manusia (SDM).
“Lampung sekarang sudah bagus dengan beragam motif. Mereka sudah bisa memahami apa sih yang diinginkan oleh konsumen,” ujar dia.
Desainer Tapis Cantik Mulang Tiyuh ini menuturkan hasil pengamatannya terhadap produk pengrajin batik yang dipamerkan di Lampung Craft 2022.
“Kalau yang saya lihat dari yang ada di sekitar sini, masih kurang untuk desainnya. Desainnya penuh,” kata dia.
Menurut dia, pengrajin batik Lampung sebaiknya memperkuat desain batik dengan motif dan pilihan warna yang tepat.
“Saya melihat batik yang ada di Lampung, sudah banyak yang bagus. Tapi masih kurang sedikit kalau untuk ke luar Lampung,” ujar dia.
Produsen batik Lampung, lanjut Rahayu, dituntut untuk bisa menangkap keinginan pasar.
“Kekurangan itu dari produsennya, apa sih yang ingin tuangkan dalam kanvas itu buat konsumen,” kata dia.
Rahayu mengatakan SDM pengrajin batik Lampung perlu diasah agar lebih kreatif dan inovatif.
“Seperti di Jakarta, (batik) mahal-mahal. Kita bisa membuat harga mahal dengan desain yang bagus dan pas. Yang kira-kira buat orang itu gak pasaran,” jelas dia.
Kreativitas dan inovasi pengrajin batik Lampung harus dikuatkan lewat pelatihan SDM dan bantuan modal usaha pasca pandemi Covid-19.
“Tenaga kerjanya sedikit, SDM-nya juga kurang. Mengajari juga susah. Pelan-pelan kita harus melatih mereka,” kata Hj Siti Rahayu.
Pasca pandemi Covid-19, lanjut dia, pengrajin batik Lampung harus kreatif dan inovatif untuk bisa bangkit kembali.
“Mereka tidak banyak memproduksi batik karena terkendala permodalan. Kemudian, pemasaran belum berjalan walaupun mereka tetap produktif,” ujar dia.
Rahayu menyampaikan pemerintah perlu lebih menggalakkan lagi pemakaian batik untuk membantu pengrajin batik Lampung.
“Misalnya membuat program produk batik lokal harus dipakai oleh pegawai pemerintahan, insyaallah cepat (bangkit),” kata dia.
Motif batik yang digunakan juga harus memuat ciri khas Lampung lainnya.
“Hari-hari ini motif batik masih sebatas siger, gajah, kapal. Sekarang kan sudah ada kopi. Tapi jangan lupa letakkan siger di situ,” ujar dia.
Kemudian, pengrajin batik Lampung juga perlu menggandeng penjahit lokal untuk menyediakan pakaian batik jadi bagi kalangan milenial.
“Dan penjahit harus tahu anak-anak muda suka pakai model apa, dan (harganya) jangan mahal. Di sini cost mahal itulah yang membuat kendalanya,” jelas Rahayu.
Pun demikian, Siti Rahayu optimis pengrajin batik Lampung, ke depannya, akan semakin maju berkat dukungan pemerintah daerah.
“Dukungan dari kepala daerah sudah luar biasa. Tinggal SDM-nya saja. Jangan menunggu dana turun. Berusaha, lakukan apa yang bisa kita lakukan,” kata dia.
“Terus, jangan patah semangat. Gak laku hari ini, mungkin besok. Rezeki gak akan kemana-mana,” pungkas Rahayu.
Pemprov Lampung kembali menggelar acara Lampung Craft 2022 sebagai sarana promosi produk UMKM.
Pameran berlangsung sejak 19-23 Oktober 2022 di Gedung Graha Wangsa, Kota Bandar Lampung, dengan tema “The Exotica Of Way Kanan”.
Lampung Craft 2022 merupakan pameran kerajinan terbesar di Lampung yang diikuti Dekranasda kabupaten/kota, BUMN, UMKM, baik dari Lampung maupun luar Lampung.
Baca Juga: Petani Kopi Lampung Terkendala Hak Cipta






