6 Nakes RSUD Demang Sepulau Raya Bersedih karena diberhentikan

6 Nakes RSUD Demang Sepulau Raya Bersedih karena diberhentikan
Mantan Nakes RSUD Demang Sepulau Raya Lampung Tengah, didampingi oleh Ari Fitrah Anugerah selaku Kuasa Hukum, Sabtu 19 Juni 2022. Foto Eka Putra

KIRKA – 6 Nakes RSUD Demang Sepulau Raya bersedih karena diberhentikan meski telah mengabdi selama belasan tahun, dan berjuang keras melawan pandemi Covid-19.

Baca Juga : Tiga Penganiaya Nakes Puskesmas Kedaton Dipenjara 1 Bulan

Kepada KIRKA.CO Sabtu 19 Juni 2022, para tenaga kesehatan tersebut, dengan didampingi oleh kuasa hukumnya Ari Fitrah Anugerah dan Ivin Aidyan dari kantor hukum Ivin Aidyan & Partner, coba menceritakan kemalangan yang tengah menimpa mereka.

Dimana harapan pudar sedang dihadapi oleh para wanita ini, lantaran merasa tak diprioritaskan dan tidak dipedulikan lagi oleh pihak RSUD DSR meski telah terhitung sejak lama mereka mengabdikan diri sebagai seorang tenaga kontrak, yang terus menerus diperbaharui setiap tahunnya.

Seperti yang dituturkan oleh Eni Ratna Ningrum, salah satu perawat yang tak lagi dipekerjakan, ia berucap dirinya selama ini rela belasan tahun bekerja dengan status kontrak, sebab dirinya memiliki angan akan mendapat pengangkatan suatu hari nanti menjadi seorang ASN.

“Saya masuk jadi honor (tenaga kontrak) sudah 15 tahun, saya dulu menerima hanya berstatus seperti itu berharap suatu saat akan diangkat jadi ASN, padahal ibaratnya kan selangkah lagi mau diangkat, saya lama bekerja di sana (RSUD Demang Sepulau Raya), eh sekarang malah dipecat,” ucapnya seraya menghela nafas panjang.

Eni kembali berkisah, bahwa sekira awal Februari 2022 lalu, ia dan rekan kerja lain yang sama-sama lama bekerja di Rumah Sakit, merasa terkejut mendapat kabar bahwa pihak RSUD akan mengadakan seleksi penerimaan ulang Pegawai Tidak Tetap.

“Jadi waktu itu, sekitar awal Februari 2022, ada pemberitahuan RSUD DSR akan membuka lowongan, dan semua tenaga kontrak diwajibkan untuk ikut tes Pegawai Tidak Tetap, alasannya yang dikasih tahu waktu itu RSUD sudah tak mampu bayar tenaga kesehatan yang sudah terlalu banyak,” tuturnya.

Khawatir akan dibuang, maka para Nakes itu pun menyanggupi permintaan tersebut, yang pada akhirnya kerelaan batin itu malah semakin panjang, lantaran nama-nama mereka tak tercantum sebagai peserta yang diluluskan oleh panitia.

“Kami terpaksa ikut, karena dikatakan kalau yang tidak mendaftar berarti dianggap mengundurkan diri, usai ikut tes malah dinyatakan tidak lulus, saya kecewa dengan pihak rumah sakit, lama mengabdi tapi malah tidak diprioritaskan,” tutupnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sejauh ini belasan Bidan dan beberapa Perawat tersebut telah mencoba berkirim surat kepada pihak terkait, termasuk ke DPR RI serta pihak Istana, demi mendapat perhatian dari pemerintah pusat serta harapan keadilan yang sesuai dengan perjuangan mereka selama ini.