Kirka – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menjadikan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Hapkido ke-9 di Bandar Lampung sebagai tolak ukur kesiapan Provinsi Lampung menuju Pekan Olahraga Nasional (PON).
Evaluasi berpusat pada kapasitas sumber daya manusia panitia pelaksana dan standar tata kelola pertandingan.
Kepala Bidang Pembinaan Prestasi KONI Pusat, Brigjen TNI (Purn.) H. Ahmad Saefudin, turun ke arena memantau langsung mekanisme penyelenggaraan di GOR Siger mewakili Ketua Umum.
“Momentum kejuaraan menjadi ruang bagi kami melihat langsung bagaimana tata kelola pertandingan olahraga berstandar nasional berjalan.
“Tata kelola yang baik pastinya harus ditopang SDM serta kelengkapan fasilitas,” ujar Ahmad, Sabtu, 26 September 2026.
Penerapan sistem digital dan alur perlombaan yang rapi di arena Hapkido mendapat atensi positif dari pengurus pusat.
Pola kerja panitia terbukti sukses mempercepat jalannya pertandingan sekaligus menjaga kedisiplinan para kontingen.
Nantinya, skema unggul dari penyelenggaraan cabang bela diri akan diramu ulang agar bisa diterapkan secara seragam pada persiapan hajatan olahraga nasional lainnya.
Dari sisi tuan rumah, Ketua KONI Lampung Taufik Hidayat menyebut agenda level nasional memberi jam terbang berharga bagi panitia lokal.
Kehadiran ratusan kontingen lintas provinsi benar-benar menguji ketangguhan pengurus daerah dalam mengelola hajatan besar.
“Pengalaman berharga bagi pengurus di daerah. Apalagi, pesertanya melibatkan atlet dan kontingen dari berbagai provinsi,” kata Taufik.
Iklim kompetisi tingkat tinggi turut menguntungkan petarung lokal.
Atlet Lampung berkesempatan menghadapi lawan tangguh berskala nasional di rumah sendiri, sekaligus mengasah mental tanpa harus merantau ke wilayah lain.
Di barisan penyelenggara cabang olahraga, Ketua Umum Pengurus Pusat Hapkido Indonesia (PPHI) GBPH Prabukusumo bangga melihat laju pertumbuhan dojang Hapkido di Sumatera.
Lebih dari 20 pusat latihan telah berdiri kokoh di wilayah Lampung seiring dengan lonjakan prestasi atlet junior.
Meski jumlah praktisi terus bertambah, Prabukusumo menitipkan pesan tegas bagi para pelatih maupun atlet.
“Yang dibangun bukan cuma kemampuan teknik, melainkan pemahaman menggunakan kemampuan bela diri secara bertanggung jawab,” tegasnya.
Pemahaman tata krama mutlak ditanamkan sejak dini.
Tujuannya agar ilmu bela diri diterapkan secara tepat guna, baik saat berlaga maupun dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.






