Kirka – Potensi daun kelor (Moringa oleifera) di Provinsi Lampung selama ini kerap terkerdilkan oleh mitos dan klenik.
Padahal, jika digarap lewat skema hilirisasi yang presisi, komoditas itu diyakini mampu menjadi game changer berfungsi ganda sebagai senjata penekan angka stunting sekaligus membuka keran ekonomi baru.
Pandangan tajam itu dilontarkan oleh Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama.
Ia menyoroti ironi penanganan stunting di Lampung yang kerap terjebak pada intervensi instan berbiaya tinggi, seperti tingginya ketergantungan pada susu formula impor.
“Ini sebuah paradoks. Di hamparan tanah kita yang begitu subur, masih ada balita yang kekurangan gizi kronis.
“Padahal, solusi stunting itu sebenarnya tumbuh liar di pekarangan dan pagar rumah warga kita sendiri,” tegas Mahendra di Bandarlampung, Sabtu, 14 Maret 2026.
Merujuk data Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang melabeli kelor sebagai Miracle Tree, Mahendra menjabarkan bahwa kandungan zat besi daun ini 25 kali lipat melampaui bayam, dengan kalsium 14 kali lebih padat dari susu sapi.
Menurutnya, secara teoritis, intervensi kesehatan berbasis sumber daya lokal (locally sourced food) jauh lebih rasional dan berkelanjutan.
“Gubernur dan para bupati di Lampung harus berani mendekonstruksi pola makan masyarakat lewat Gerakan Tanam dan Makan Kelor.
“Ini bukan sekadar gerakan seremonial tanam pohon, tapi pemanfaatan obat stunting paling mujarab dan paling murah dalam sejarah medis,” imbuhnya.
Bukan Jual Daun Mentah
Lebih dari sekadar urusan gizi, Mahendra melihat kelor sebagai instrumen kedaulatan ekonomi kerakyatan, sebuah langkah yang sejalan dengan visi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, ia mewanti-wanti agar Lampung tidak mengulangi kesalahan lama dengan hanya menjadi pengekspor bahan mentah.
Ia membedah tiga sektor hilirisasi yang patut digarap serius guna mendongkrak nilai tambah kelor.
Pertama, sektor farmasi dan nutrisi melalui produksi kapsul ekstrak kelor, teh herbal premium, serta suplemen pelancar ASI.
Kedua, sektor pangan olahan. Tepung kelor dinilai mampu mensubstitusi terigu, menjadi bahan baku mi, hingga fortifikasi makanan bayi.
“Ketiga, yang bernilai ekonomi sangat tinggi adalah sektor kosmetik.
“Ekstrak minyak biji kelor atau Ben Oil saat ini sangat diburu di pasar Eropa sebagai bahan baku utama serum anti-penuaan,” urai Mahendra.
Sebagai perbandingan komparatif, ia mencontohkan manuver India yang kini menguasai 80 persen pasar kelor global dan sukses mengekspor teknologi ekstraksinya ke Amerika dan Eropa.
Di ranah kebijakan, Filipina dinilai sukses memproteksi gizi anak sekolah dengan mewajibkan campuran kelor dalam menu makan siang lewat beleid Malunggay Act.
Dengan proyeksi pasar kelor global yang diprediksi menembus 10 miliar Dolar AS pada 2030, Lampung dengan ketersediaan lahan luas dan akses pelabuhan internasional dinilai punya modal besar merebut ceruk pasar tersebut.
Lintas Sektoral
Agar gagasan besar ini tidak menguap sebatas jargon politik, Mahendra mendesak adanya orkestrasi kebijakan lintas sektoral yang terukur dan rigid.
Dinas Pertanian, kata dia, memegang mandat untuk memetakan lahan dan mendistribusikan bibit unggul.
Targetnya, mengubah status kelor dari tanaman liar menjadi perkebunan rakyat organik berstandar ekspor.
Di hilir, Dinas Perindustrian harus turun tangan memfasilitasi mesin pengering (dehydrator) bersuhu rendah di tingkat desa serta mengawal standardisasi BPOM dan sertifikasi Halal.
“Tanpa teknik pengeringan yang benar, nutrisi kelor akan rusak,”tegasnya.
Di tingkat akar rumput, Mahendra mendorong para bupati menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) yang mewajibkan penanaman minimal tiga pohon kelor per rumah tangga.
Aturan harus terintegrasi langsung dengan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu.
Mengutip pemikiran ekonom E.F. Schumacher, Mahendra menutup analisisnya dengan sebuah refleksi.
“Teknologi menengah berbasis sumber daya lokal adalah kunci kemandirian. Saatnya kita buang jauh-jauh stigma kelor sebagai tanaman mistis.
“Kita buktikan Lampung bisa menghapus stunting dari buminya tanpa triliunan rupiah untuk impor gizi, cukup dengan memaksimalkan emas hijau di pekarangan sendiri,” pungkasnya.






