Kirka – Peta politik Lampung tampaknya sulit dipisahkan dari sosok Chusnunia Chalim.
Hal ini diakui, meski lewat nada bercanda, oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri pengukuhan pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lampung, Minggu, 8 Februari 2026.
Di hadapan ratusan kader yang memadati Hotel Grand Mercure, Mirza melempar kelakar yang disambut riuh.
Ia menyoroti stabilitas posisi tawar PKB di bawah komando politisi yang akrab disapa Nunik tersebut.
“Selama PKB dipimpin Mbak Nunik, sepertinya siapa pun gubernurnya, wakilnya pasti dari PKB,” ujar Mirza.
Pernyataan itu menyiratkan pengakuan atas kekuatan infrastruktur politik PKB di Bumi Ruwa Jurai.
Gubernur Mirza menilai, gerbong besar pengurus yang baru dilantik merupakan modal sosial yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam agenda pembangunan daerah.
Menurutnya, kolaborasi lintas partai adalah kunci, terutama untuk mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan hilirisasi sektor riil yang kini menjadi fokus Pemprov.
Amunisi Rp1,7 Miliar untuk “Pasukan Lebah”
Dalam agenda tersebut, Nunik resmi kembali menakhodai DPW PKB Lampung untuk periode 2026–2031.
Ia memimpin struktur gemuk yang terdiri dari 210 personel, mencakup jajaran KSB, 40 pengurus harian, dan 90 anggota di 30 biro strategis. Barisan ini mereka juluki Pasukan Lebah.
Tak ingin sekadar seremoni, PKB Lampung langsung memanaskan mesin partai dengan menyuntikkan dana kaderisasi.
Total Rp1,7 miliar digelontorkan tunai kepada 15 Dewan Pengurus Cabang (DPC) kabupaten/kota.
Distribusi dana ini bervariasi, mulai dari Rp100 juta hingga Rp200 juta per DPC, disesuaikan dengan tantangan geografis dan kepadatan penduduk masing-masing wilayah.
“PR besar kita adalah kaderisasi. Struktur ini sengaja dibuat inklusif, menggandeng banyak kalangan agar PKB hadir melayani, bukan sekadar muncul lima tahun sekali saat butuh suara,” tegas Nunik.
Sementara, prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Umum DPP PKB, Jazilul Fawaid.
Mewakili Ketua Umum Muhaimin Iskandar, Jazilul menekankan bahwa tantangan politik ke depan semakin kompleks karena pengaruh global yang merembes ke daerah.
Ia mengingatkan barisan pengurus baru untuk tegak lurus pada etika politik. Baginya, kemenangan elektoral menjadi percuma jika menanggalkan akhlakul karimah.
“Ingat, menjadi pengurus PKB itu artinya siap ngurusi rakyat dan umat, bukan malah menjadi urusan,” sentil Jazilul menutup arahannya.
Agenda konsolidasi ini turut dihadiri sejumlah tokoh, mulai dari Wakil Gubernur dr. Jihan Nurlela, jajaran bupati, hingga pimpinan lintas partai dan ormas seperti NU serta Muhammadiyah.






