Kirka – Di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi global mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga rumitnya transisi energi, Provinsi Lampung justru menyalakan sinyal optimisme.
Perekonomian daerah ini diproyeksikan tumbuh di kisaran 5 hingga 5,7 persen pada 2026, melampaui estimasi tahun sebelumnya yang bergerak di angka 4,9 hingga 5,5 persen.
Bagi Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, angka tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas.
Ia melihat adanya fondasi sektor riil yang kian solid, terutama dari geliat pertanian dan industri hijau.
Namun, Mahendra buru-buru memberi catatan, proyeksi ini adalah angin segar yang harus disikapi dengan kerja keras, bukan angan-angan kosong.
“Lampung sering dipandang sebelah mata dalam narasi pembangunan nasional. Pertanyaan besarnya sekarang, mampukah kita melompat lebih tinggi memanfaatkan momentum ini?
“Atau kita akan kembali terjebak dalam siklus lama, hanya puas menjadi penjual bahan mentah,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Rabu, 4 Februari 2026.
Lumbung Pangan
Mahendra menyoroti posisi strategis Lampung yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan.
Data berbicara, Lampung menyuplai 70 persen kebutuhan singkong nasional dan memegang 70 persen porsi ekspor kopi Indonesia.
Namun, dominasi ini menurutnya rentan jika tidak dibarengi dengan hilirisasi.
“Tanpa pengolahan lanjutan, kita hanya akan jadi tukang jual bahan baku. Untungnya, peta jalan ke arah hilirisasi mulai terlihat,” paparnya.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah provinsi yang mulai agresif menyediakan teknologi pascapanen, seperti mesin pengering (dryer) untuk kopi, singkong, dan lada.
Langkah ini dinilai krusial bagi petani di sentra produksi seperti Lampung Timur agar tak lagi didikte harga pasar global yang liar.
Dengan hilirisasi, lada tak lagi dijual mentah, melainkan sebagai bubuk organik atau produk turunan bernilai tinggi.
Industri Hijau dan Infrastruktur
Dalam analisisnya, Mahendra menyebut persilangan antara hilirisasi pertanian dan industri hijau sebagai driver utama ekonomi Lampung ke depan.
Komoditas singkong yang diolah menjadi bioetanol atau tepung modifikasi, serta revitalisasi lada dan kopi premium, adalah contoh nyata bagaimana ekonomi bisa tumbuh selaras dengan pelestarian lingkungan.
“Ini peluang emas transisi ekonomi. Memanfaatkan limbah singkong untuk energi terbarukan, misalnya, adalah konsep masa depan yang harus kita tangkap sekarang,” tegas Mahendra.
Kendati demikian, Mahendra menyalakan lampu kuning terkait infrastruktur.
Menurutnya, target pertumbuhan 5,7 persen bisa meleset jika masalah klasik seperti jalan rusak dan irigasi yang tak merata tidak dibereskan.
“Infrastruktur adalah urat nadinya. Kalau distribusi terhambat, biaya logistik bengkak, investor bisa pikir dua kali,” imbuhnya.
Optimisme Mahendra juga didasarkan pada iklim investasi yang membaik.
Realisasi investasi tahun 2025 yang menembus Rp15,1 triliun menjadi modal kuat untuk mengejar target Rp13-14 triliun di 2026.
Fokusnya kini bergeser ke sektor industri pengolahan yang menyerap tenaga kerja.
Namun, ia mengingatkan pemerintah daerah untuk menjaga halaman depan Lampung dari praktik pungutan liar dan birokrasi yang berbelit.
“Stabilitas politik dan kemudahan perizinan itu mutlak. Isu sosial kecil saja bisa mengganggu selera investor,” kata Mahendra.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga yang didorong oleh bonus demografi dan sektor pariwisata yang menyumbang Rp53,11 triliun pada 2025 tetap menjadi bantalan ekonomi yang kuat.
Mahendra menekankan perlunya pelatihan vokasi bagi anak muda agar mereka tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga produsen yang produktif dalam ekosistem ekonomi baru ini.
“Reformasi struktural adalah kunci. Jika pemerintah, swasta, dan masyarakat bersinergi, Lampung tidak hanya sekadar naik, tapi melesat dengan fondasi yang kokoh,” pungkasnya.






