Menu
Precision, Actual & Factual

Pengembangan Perkara Budi Tjahjono KPK Tetapkan Dua Tersangka Baru

  • Bagikan
Ilustrasi. Foto Dok KPK

KIRKA.CO – Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan dua tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi pembayaran komisi fiktif dalam pengadaan asuransi minyak dan gas pada BP Migas-KKKS tahun 2010 – 2012 dan tahun 2012-2014, hasil pengembangan perkara Budi Tjahjono yang telah divonis November 2020 lalu.

Dua orang tersebut berinisial KEFC selaku pemilik PT.AMS dan seorang berinisial SLH selaku Direktur Keuangan dan Investasi PT AJI Persero periode tahun 2008 – September 2016, yang resmi ditetapkan sebagai tersangka kamis 20 mei 2021 kemarin.

Terhadap tersangka KEFC, kini KPK menitipkannya selama 20 hari ke depan hingga 8 Juni 2021 ke Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur, dan yang bersangkutan saat ini melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di Rutan KPK Kavling C1.

Sedangkan kepada SLH, KPK belum dapat melakukan penahanan lantaran tersangka telah mengkonfirmasi secara tertulis tidak bisa hadir karena sakit, dan kini tengah dilakukan penjadwalan dan pemanggilan ulang.

Dalam perkara ini sendiri, KEFC diduga membantu Budi Tjahjono agar PT.AJI menjadi leader konsorsium dalam penutupan asuransi proyek dan aset BP Migas-KKKS Tahun 2009-2012, yang seolah-olah PT.AJI menggunakan jasa agen asuransi ITK yang diketahui merupakan anak buah KEFC untuk memperoleh proyek ini.

PT.AJI kemudian membayarkan komisi jasa agen asuransi kepada ITK sebesar Rp7,3 Miliar, yang selanjutnya diterima oleh tersangka KEFC yang kemudian sebagian uang yang dibayarkan tersebut diserahkannya kepada Budi Tjahjono dengan besaran Rp.6 Miliar, sedang Rp1.3 miliar sisanya dipergunakan untuk kepentingan pribadi KEFC.

Untuk peran tersangka SLH sendiri, KPK menyangkakannya telah melakukan Modus yang sama seperti KEFC, namun dalm hal ini ia mengganti jasa agennya dari ITK menjadi SH, yang Kemudian PT.AJI membayarkan komisi agen jasa asuransi kepada SH sebesar USD 600 ribu.

Dan selanjutnya motif perputaran uang yang sama seperti sebelumnya, dengan pola yakni SH menyerahkan uang tersebut kepada Budi Tjahjono melalui SLH sejumlah USD 400 ribu, sedang USD 200 ribu sisanya dipergunakan untuk keperluan pribadi Tersangka SLH.

KPK pun menjerat keduanya dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor, Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

  • Bagikan