Kirka – Narasi tentang Lampung sebagai tempat singgah pemakan bakso atau pemburu oleh-oleh pisang cokelat tampaknya harus segera direvisi.
Di balik deru kendaraan yang melintasi Tol Trans-Sumatera, sedang terjadi pergeseran tektonik dalam struktur ekonomi provinsi ini yang tercermin dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menelisik data krusial tersebut.
Dalam pandangannya, PDRB bukan sekadar deretan angka mati di tabel statistik BPS, melainkan denyut nadi yang menggambarkan keringat petani hingga transaksi digital kaum urban.
Memasuki tahun 2026, Mahendra menunjuk satu fakta tak terbantahkan, Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) masih duduk nyaman di singgasana ekonomi dengan nilai PDRB menembus angka psikologis ± Rp97 triliun.
“Lamteng itu raksasa yang belum tergoyahkan. Mereka tidak hanya bicara teori pusat pertumbuhan, tapi mempraktikkannya.
“Ada perkawinan intim antara sektor hulu pertanian dan hilir industri pengolahan di sana,” ulas Mahendra dalam keterangannya, Senin, 16 Februari 2026.
Eksponen 98 ini menganalisis, dominasi Lamteng sulit dipatahkan karena memiliki dua mesin yang menyala serentak.
Hamparan tebu dan singkong tidak dijual mentah, melainkan langsung diserap pabrik gula dan tapioka skala nasional yang berdiri di atas tanah yang sama. Efisiensi inilah kunci kedigdayaan mereka.
Duel Klasik
Jika posisi puncak relatif aman, Mahendra justru menyoroti pertarungan sengit di perebutan posisi runner-up.
Kota Bandarlampung sebagai wajah provinsi kini mendapat ancaman serius dari tetangganya, Lampung Selatan (Lamsel).
Mahendra menilai, Bandarlampung memang memiliki perputaran uang yang cepat lewat sektor jasa dan perdagangan.
Namun, kota ini terbelenggu oleh satu hal, limitasi lahan.
“Di sinilah Lampung Selatan masuk sebagai kuda hitam. Dengan kawasan industri Tanjung Bintang dan Katibung yang terkoneksi pintu tol, Lamsel menjelma menjadi primadona bagi investor logistik.
“Jika Bandarlampung lengah, bukan tidak mungkin posisinya akan terbalap,” ingatnya.
Sebaliknya, Mahendra meminta publik agar tidak memandang sebelah mata daerah dengan PDRB kecil seperti Pesisir Barat.
Menurutnya, angka kecil di sana bukan sinyal kegagalan, melainkan konsekuensi dari pilihan sektor pariwisata yang niche dan populasi yang minim.
“Secara kualitas hidup, warga di sana mungkin jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk industri di selatan,” tambahnya.
2029
Menatap cakrawala 2029, Mahendra memproyeksikan transformasi Lampung dari sekadar agraris menuju industri berbasis pertanian yang lebih canggih.
Ia memetakan 3 tren besar, lonjakan sektor pergudangan di koridor tol, adopsi smart farming di Lampung Timur dan Tengah, serta penguatan ekonomi kreatif di Bandarlampung.
“PDRB 2029 bukan lagi soal siapa yang punya tanah paling luas. Pemenangnya adalah siapa yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi dan efisiensi logistik,” tegas Mahendra.
Mahendra, sosok yang kerap menuangkan pemikiran kritis lewat tulisan ini memberikan kredit khusus bagi para aktor di balik angka-angka triliunan tersebut.
“Pemerintah yang berani memacu infrastruktur, pengusaha yang bertaruh modal, dan terutama petani yang konsisten menggarap lahan di tengah fluktuasi harga.
“Merekalah tulang punggung yang menjaga perut Lampung tetap kenyang,” pungkasnya.






