Kirka – Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memproyeksikan Kabupaten Lampung Utara memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi poros ekonomi hijau nasional pada tahun 2026.
Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut hanya bisa terwujud jika pemerintah daerah dan pemangku kepentingan berani mengubah pola pertanian tradisional menuju ekosistem modern berbasis teknologi.
Pernyataan ini disampaikan Mahendra menanggapi tren positif pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang menyentuh angka 5,28 persen pada 2025, angka tertinggi ketiga di Sumatera.
Menurut Mahendra, sektor pertanian yang menyumbang 28 persen PDRB harus segera naik kelas.
Ia menilai, Lampung Utara tidak boleh lagi sekadar menjadi lumbung bahan mentah, melainkan pusat hilirisasi produk.
“Ini bukan sekadar utopia. Ini proyeksi realistis jika Lampung Utara berani menuntaskan janji transformasinya.
“Kita harus berhenti terjebak pola lama yang hanya mengandalkan ekspor bahan mentah dan membiarkan kualitas SDM berjalan di tempat,” tegas Mahendra dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 18 Februari 2026.
Menghindari Kutukan
Mahendra menyoroti fenomena produksi padi provinsi yang melonjak hingga 3,2 juta ton pada 2025.
Meski surplus tenaga kerja tani dan luas panen yang diproyeksikan mencapai 597,48 ribu hektar adalah modal besar, ia mengingatkan akan bahaya kutukan sumber daya alam (resource curse).
Mengutip teori ekonomi W. Arthur Lewis, Mahendra mengingatkan bahwa kekayaan fisik wilayah tidak akan berdampak pada kesejahteraan jika tidak ada nilai tambah.
“Jangan sampai kita kaya secara fisik tapi miskin nilai tambah. Jika pertanian menyumbang 50 persen PDRB kabupaten, maka membiarkan petani bergulat sendiri dengan teknologi jadul adalah sebuah kesalahan fatal dalam pembangunan,” ujarnya.
Ia mendorong agar komoditas unggulan seperti ubi kayu dan kedelai tidak lagi dijual murah dalam bentuk mentah.
Ubi kayu, misalnya, harus diproses menjadi bioetanol, dan kedelai diolah menjadi produk protein nabati berkualitas tinggi untuk mendongkrak nilai jual.
Era Society 5.0
Untuk mencapai target 2026, Mahendra menawarkan solusi pembangunan berbasis sumber daya lokal (local based development) dengan konsep pertanian terpadu.
Konsep itu mengintegrasikan tanaman, ternak, dan energi bersih yang sejalan dengan visi Society 5.0.
“Bayangkan ekosistem di mana panel surya menggerakkan irigasi pintar dan drone menyebar pupuk secara presisi.
“Petani muda kita harus bisa mengendalikan rantai pasok ekspor hanya lewat ponsel,” papar Mahendra.
Untuk merealisasikan hal tersebut, Mahendra menyarankan tiga langkah strategis yang harus diambil pemerintah daerah:
1. Hilirisasi Total: Menarik investasi swasta untuk mendirikan pabrik pengolahan di lokasi produksi.
2. Vokasi Pertanian: Integrasi pendidikan pertanian modern ke kurikulum sekolah agar generasi muda bangga menjadi petani.
3. Agrowisata: Transformasi lahan pertanian menjadi destinasi wisata edukasi.
“Tahun 2026 harus menjadi titik balik. Kita ingin membuktikan bahwa sektor pertanian bukan lagi simbol kemiskinan, melainkan mesin ekonomi inklusif yang paling perkasa,” pungkasnya.






