Kirka – Kunjungan kerja Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, ke pusat produksi Modified Cassava Flour (Mocaf) di Pekon Tulung Agung, Pringsewu, pada Kamis, 12 Maret 2026 lalu, memantik sinyal positif bagi iklim investasi daerah.
Pertemuan tersebut dinilai sukses mendobrak kebekuan birokrasi melalui pendekatan kewirausahaan yang taktis.
Analisis ini dilontarkan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.
Ia melihat peninjauan tersebut jauh dari kesan seremonial pemerintahan biasa.
Sebaliknya, momen itu menjadi ajang eksekusi bisnis antara Gubernur Mirza dan Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas, di mana keduanya sama-sama memiliki insting pengusaha yang kuat.
“Ini bukan sekadar potong pita. Di tengah carut-marut birokrasi yang kerap mengerdilkan inovasi, kolaborasi dua pemimpin dengan DNA wirausaha ini menawarkan model baru.
“Posisi pemerintah bergeser, murni menjadi akselerator pertumbuhan,” tegas Mahendra Utama di Bandarlampung, Sabtu, 14 Maret 2026.
Monopoli Pabrik Raksasa
Berbekal rekam jejaknya yang lama bergelut di sektor pertanian dan perkebunan,
Bang Mahe, sapaan akrabnya, menilai gebrakan Pringsewu adalah jawaban atas fluktuasi harga singkong segar yang kerap merugikan petani.
Selama ini, Lampung memang menyandang status lumbung singkong nasional, namun nilai tambah komoditasnya justru lebih banyak disedot oleh pabrik tapioka berskala besar.
Inisiatif Bupati Riyanto mendorong produksi mocaf di tingkat desa dianggap berhasil memutus rantai ketergantungan tersebut.
“Industrialisasi rupanya tidak selalu identik dengan pabrik raksasa yang berasap.
“Skema di Pringsewu membuktikan bahwa hilirisasi bisa digerakkan dari rumah-rumah warga.
“Petani kini punya alternatif pasar yang jelas dan menguntungkan,” urai Tenaga Pendamping Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindag tersebut.
Pemberdayaan ini juga tercermin dari kesiapan Koperasi Cokroaminoto pimpinan Muharam, yang membuktikan bahwa lembaga ekonomi akar rumput sanggup menjadi lokomotif produksi jika difasilitasi dengan benar.
Ekonomi Sirkular dan Replikasi Provinsi
Lebih lanjut, Mahendra menyoroti kejelian Gubernur Mirza dalam membaca peluang skala makro.
Alih-alih memonopoli proyek di tingkat provinsi, sang Gubernur justru merancang skema kolaborasi antar daerah.
Ia memproyeksikan singkong dari sentra produksi seperti Lampung Tengah untuk dikeringkan dan dihilirisasi menjadi mocaf di Pringsewu.
“Cara kerja pengusaha itu linier, lihat, nilai, putuskan, lalu eksekusi.
“Kecepatan Gubernur merespons fasilitas di Pringsewu untuk dijadikan pilot project provinsi adalah cerminan ritme bisnis yang diaplikasikan ke dalam tata kelola pemerintahan,” puji tokoh Eksponen 98 ini.
Menurutnya, skema ekonomi sirkular jauh lebih efektif dibandingkan program top down yang sekadar dirancang dari balik meja birokrasi provinsi.
Tantangan Daerah Lain
Kesuksesan kolaborasi di Pringsewu, menurut Mahendra, seharusnya menjadi cambuk bagi kabupaten lain di Bumi Ruwa Jurai.
Ia mengingatkan bahwa keunggulan kompetitif di era modern tidak bisa lagi sekadar mengandalkan hasil alam mentah.
Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis itu mengutip teori keunggulan kompetitif Michael Porter, di mana nilai ekonomi sebuah daerah harus diciptakan melalui inovasi, teknologi, dan strategi branding.
“Jika Pringsewu sudah melangkah dengan mocaf singkongnya, lantas apa inovasi turunan kopi robusta dari Lampung Barat?
“Mana produk hilir nanas dari Lampung Timur, atau potensi perikanan Pesisir Barat,” tanyanya.
Di akhir, Mahendra menegaskan bahwa masa depan ketahanan ekonomi Lampung sangat bergantung pada keberanian menciptakan nilai tambah.
“Momentumnya sudah ada. Jika semua daerah bergerak merumuskan mocaf versi mereka masing-masing, Lampung tak pelak akan menjadi kekuatan ekonomi paling tangguh di Sumatera,” pungkasnya.






