Kepada Taufik, Mustafa mengaku tidak mengenal Aliza. “Pak Mustafa tahunya orang pak Azis itu Edi Sujarwo,” katanya.
Taufik kemudian menghubungi Edi Sujarwo dan bertemu di rumah Edi. Sepekan setelah pertemuan itu, Edi menyampaikan kepada Taufik bahwa ia bisa mempertemukannya dengan Azis Syamsuddin.
Baca Juga : KPK Periksa 3 Saksi Perkara Azis Syamsudin di Lampung
Akhirnya, Taufik dan beberapa rekannya berangkat ke Jakarta pada 20 Juli untuk menemui Azis, agar proposal pengurusan DAK disetujui.
Sebelum berangkat ke Jakarta, Taufik mengatakan bahwa Edi memintanya menyiapkan uang Rp 200 juta. Uang tersebut ia taruh di dalam kresek plastik.
Penyerahan uang dilakukan oleh staf Taufik, Indra Erlangga, kepada Edi Sujarwo di bandara Lampung.
Setelah tiba di Jakarta, Taufik diajak Edi Sujarwo ke kafe untuk bertemu Azis Syamsuddin. Kafe tersebut, kata Taufik, milik adik Azis yang bernama Vio.
Setelah itu, Edi menyampaikan kepada Taufik bahwa uang proposal tersebut telah diserahkan kepada Vio. Malam itu, Taufik gagal bertemu Azis karena ada rapat anggaran di DPR.
Pada 21 Juli, Taufik dan Darius diajak Edi Sujarwo ke Gedung DPR untuk menemui Azis. Saat bertemu, Azis menyampaikan bahwa kemungkinan DAK untuk Lampung Tengah sebesar Rp 25 miliar.
Taufik sempat menanyakan apakah besaran DAK bisa ditambah. Tetapi Azis menyatakan besaran tersebut sudah tinggal ketok palu.
Tak lama, Taufik ditelepon Aliza. Menurut dia, Aliza emosi ketika tahu pengurusan proposal DAK itu melalui Edi Sujarwo.
“Kalau kata Aliza, Pak Jarwo itu orang lapangan, dia gak ngerti masalah gini. ‘Kalau masalah gini, masalah yang agak teknis ini urusan saya’,” ujar Taufik.






