Analisis Potensi Ekonomi Semangka dan Melon Lampung 2020-2025: Lompatan Nilai Tambah dari Hulu ke Hilir

Analisis Potensi Ekonomi Semangka dan Melon Lampung 2020-2025: Lompatan Nilai Tambah dari Hulu ke Hilir
Ilustrasi: Hilirisasi semangka dan melon Lampung yang diproyeksikan mampu melipatgandakan nilai ekonomi produk pertanian dari hulu ke hilir. Foto: Wiki/Shutterstock/Kirka/I

Kirka – Provinsi Lampung telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu dari lima besar daerah penghasil semangka nasional.

Namun, di balik tingginya angka produksi tersebut, Lampung diperkirakan kehilangan potensi nilai tambah ekonomi hingga ratusan miliar rupiah setiap tahun akibat ketiadaan proses hilirisasi.

Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa perekonomian daerah dan petani saat ini tidak bisa lagi hanya bergantung pada penjualan produk primer (buah segar).

Berdasarkan analisis periode 2020-2025, ketiadaan hilirisasi menciptakan kelemahan struktural bagi petani.

“Tanpa hilirisasi, petani dan pelaku usaha menghadapi kerugian struktural.

“Harga komoditas sangat fluktuatif, saat panen raya harga semangka bisa anjlok hingga Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram.

“Belum lagi susut pascapanen mencapai 15-25 persen,” tegas Mahendra Utama, Minggu, 1 Maret 2026.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPTH) Provinsi Lampung tahun 2024, produksi semangka mencapai 17.934 ton, sementara melon di angka 3.396 ton.

Dengan harga rata-rata di tingkat petani (Rp6.000/kg untuk semangka dan Rp8.000/kg untuk melon), total potensi ekonomi primer dari kedua komoditas ini hanya berkisar di angka Rp134,8 miliar per tahun.

Nilai itudinilai masih sangat rendah dibandingkan potensi aslinya.

Merujuk pada kajian Prof. Tajuddin Bantacut dari IPB, Mahendra mengingatkan bahwa perekonomian perdesaan yang hanya bertumpu pada produk primer memiliki nilai rendah.

“Nilai terbesar yang terkandung dalam hasil pertanian seringkali justru diangkut dan dimanfaatkan di wilayah perkotaan,” imbuhnya.

Hilirisasi

Mahendra menyoroti bahwa hilirisasi atau pengolahan produk pascapanen dapat meningkatkan nilai jual hingga dua sampai lima kali lipat.

Jika Lampung melakukan hilirisasi secara terintegrasi, potensi ekonomi kedua komoditas tersebut akan melonjak drastis menjadi Rp470 miliar hingga Rp550 miliar per tahun.

Artinya, ada sekitar Rp335 miliar uang yang hilang setiap tahun karena buah hanya dijual segar.

Berikut adalah proyeksi lompatan nilai tambah berdasarkan analisis Mahendra:

  • Semangka: Harga segar Rp6.000/kg. Jika diolah menjadi jus atau puree, nilainya naik 3,3 kali lipat menjadi Rp20.000/kg. Limbah kulit yang diolah menjadi manisan melonjak 5,8 kali lipat menjadi Rp35.000/kg.
  • Melon: Harga segar Rp8.000/kg. Jika diolah menjadi sari buah, nilainya naik 3,1 kali lipat menjadi Rp25.000/kg. Jika dijadikan keripik melon, harganya meroket 5,6 kali lipat menjadi Rp45.000/kg.

Ekonomi Sirkular

Selain produk utama, pengolahan limbah hortikultura (ekonomi sirkular) menjadi kunci penting hilirisasi.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, membenarkan bahwa limbah buah menyimpan komponen bernilai tinggi seperti pigmen alami, pektin, minyak atsiri, dan senyawa bioaktif.

Dukungan teknologi ekstraksi mutakhir seperti yang disampaikan Akademisi Universitas Brawijaya, Widya Dwi Rukmi Putri, dapat menyulap kulit semangka dan melon menjadi bahan baku industri pangan, kosmetik, hingga pupuk organik.

Belajar dari Daerah Lain

Keberhasilan hilirisasi sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.

Mahendra mencontohkan beberapa daerah yang sukses keluar dari jebakan harga anjlok saat panen raya:

  • Brebes (Bawang Merah): Hilirisasi menjadi pasta dan bawang crispy berhasil menembus pasar ekspor Saudi dan Chicago.
  • Indramayu (Mangga): Mengatasi panen melimpah dengan teknologi coating, fruit leather, hingga permen jelly berkat kerja sama dengan BRIN.
  • Bali (Pisang): Program Banana Smart Village di Buleleng memasok hingga 1.000 ton per minggu ke industri dengan fasilitas pascapanen modern.
  • Blitar (Manggis): Kulit manggis disulap menjadi sirup dan minuman instan oleh Universitas Brawijaya.

Rekomendasi

Menghadapi potensi raksasa itu, Mahendra Utama menyarankan agar petani bertransformasi menjadi pebisnis dengan membentuk kelembagaan kuat seperti koperasi atau BUMP (Badan Usaha Milik Petani).

Di sisi perdagangan, dukungan infrastruktur penyimpanan controlled atmosphere storage (CAS) sangat mendesak.

Pemerintah Provinsi Lampung sendiri telah menunjukkan komitmen yang searah dengan mendorong penanaman buah lokal untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Dinas KTPTH Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, menegaskan visi daerahnya.

“Kami ingin Lampung bukan hanya menjadi daerah penghasil bahan pangan pokok, tapi juga pusat buah-buahan berkualitas yang menopang program gizi nasional,” pungkasnya.

Langkah strategis pemprov ini, menurut Mahendra, harus segera dikawal dengan fasilitas hilirisasi agar petani tidak lagi sekadar menjadi penyuplai bahan mentah, melainkan pihak yang menikmati nilai tambah tertinggi dari panen mereka.