Kirka – Urusan menyusui dan menyiapkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) masih kerap dianggap sebagai tugas ibu semata.
Padahal, keberhasilan pemenuhan gizi anak sejak lahir sangat bergantung pada keterlibatan penuh keluarga di rumah serta dukungan lingkungan sekitar.
Pesan kuat agar para ibu tidak dibiarkan berjuang sendirian mengemuka dalam Gebyar 11 Tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Daerah Lampung di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Lampung, Minggu, 25 Oktober 2026.
Ketua AIMI Daerah Lampung, Ritma Fathi Khalida, mengatakan peringatan hari jadi ke-11 bukan sekadar perayaan usia organisasi.
Lewat pertemuan bersama para orang tua, AIMI Lampung ingin kembali mengingatkan masyarakat bahwa masa pengasuhan anak membutuhkan pendampingan tanpa putus.
“Sebelas tahun perjalanan AIMI Lampung adalah perjalanan untuk terus belajar, berbagi pengetahuan, dan hadir mendampingi ibu serta keluarga.
“Kami percaya bahwa ibu tidak seharusnya menjalani perjalanan menyusui dan pengasuhan seorang diri,” kata Ritma.
Bagi seorang ibu baru, masa menyusui hingga peralihan ke MPASI sering kali penuh tantangan.
Ritma berujar, rasa percaya diri ibu dalam merawat bayinya baru akan tumbuh kuat apabila ia mengantongi informasi yang benar, berada di lingkungan yang suportif, dan dibantu langsung oleh pasangan maupun keluarga dekat.
Ruang Belajar hingga Upaya Cegah Stunting
Pendampingan yang konsisten sejak masa kehamilan sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan.
Asupan gizi yang tepat pada awal kehidupan menjadi kunci utama agar tumbuh kembang bayi berjalan optimal sekaligus mencegah stunting.
Mengusung tema “11 Tahun Bersama Ibu, Menguatkan Keluarga, Menumbuhkan Generasi”, AIMI Lampung mengubah area acara menjadi ruang belajar yang hangat bagi para orang tua.
Ibu dan ayah yang hadir bisa langsung mengikuti Kelas Menyusui yang dipadukan dengan Prenatal Yoga, serta mempraktikkan panduan di Kelas MPASI.
Panitia juga membuka gerai konseling tatap muka.
Di pojok konsultasi, para orang tua leluasa berdiskusi dengan konselor seputar kesiapan persalinan, kendala menyusui, hingga cara mengolah MPASI yang tepat bagi buah hati mereka.
Meski edukasi rutin terus digulirkan sejak AIMI Lampung berdiri pada 26 Oktober 2015, Ritma menyadari gerakan penyuluhan gizi bayi dan anak tidak bisa dikerjakan satu pihak saja.
Tenaga kesehatan, komunitas, hingga pemerintah daerah perlu bergerak beriringan bersama keluarga.
“Upaya mendukung ibu menyusui dan memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang optimal bukan hanya tanggung jawab ibu.
“Keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak perlu mengambil bagian. Kami berharap semakin banyak orang memahami bahwa mendukung ibu berarti turut membangun pondasi kesehatan generasi berikutnya,” pungkas Ritma.






