Kirka – Proyek pengolahan singkong menjadi bioetanol di Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, menjadi jalan keluar bagi Provinsi Lampung untuk lepas dari ketergantungan penjualan komoditas mentah.
Transformasi sektor pertanian menuju industri energi hijau mutlak berjalan mengingat hampir enam juta penduduk Bumi Ruwa Jurai menggantungkan hidup pada hasil bumi.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa hilirisasi hasil tani bukan lagi sekadar pilihan bagi Lampung, melainkan sebuah keharusan.
Kehadiran pabrik pengolahan bahan bakar nabati akan mengangkat derajat singkong dari komoditas berharga murah menjadi produk energi bernilai ekonomi tinggi.
“Selama puluhan tahun petani kita terjebak pada gejolak harga komoditas primer yang rentan anjlok saat panen raya.
“Mengacu pada kerangka ekonomi Prebisch Singer, pembangunan industri bioetanol merupakan langkah nyata agar daerah penghasil bahan baku keluar dari jebakan ekspor primer,” kata Mahendra Utama, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Kesiapan Lampung bertransformasi menjadi pusat energi hijau ditopang oleh modal alam yang jarang dimiliki daerah lain di Indonesia.
Selain produksi singkong yang melimpah, ketersediaan jagung serta sorgum di berbagai kabupaten menjadi jaminan pasokan bahan baku jangka panjang bagi operasional pabrik pengolahan bahan bakar nabati.
Kolaborasi
Guna menyerap potensi pertanian daerah secara maksimal, pembangunan fasilitas pengolahan bioetanol di Tegineneng, Pesawaran, ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada kuartal III 2026.
Proyek berskala besar di sektor energi bersih digarap melalui kolaborasi antara Toyota, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), serta BPI Danantara.
Mahendra menyampaikan apresasi khusus kepada jajaran investor seperti Toyota, Pertamina NRE, beserta mitra lainnya yang berani menanamkan modal dari hulu hingga hilir di Lampung.
Masuknya korporasi kelas dunia membuktikan tingginya daya tarik investasi hijau di wilayah ujung selatan Sumatera.
“Keberanian para investor membangun ekosistem energi hijau dari hulu ke hilir patut mendapat apresiasi.
“Kolaborasi perusahaan besar akan memberikan kepastian serapan hasil panen petani lokal sekaligus mendongkrak perekonomian daerah,” ujar Mahendra.
Langkah industrialisasi komoditas pertanian di Pesawaran juga berjalan beriringan dengan peta jalan Pemerintah Provinsi Lampung.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan industri bioetanol adalah langkah strategis dalam mendorong hilirisasi sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Dukungan percepatan realisasi proyek turut disuarakan pemerintah pusat melalui Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu.
Ia menekankan pentingnya pengerjaan fisik secara nyata di lapangan tanpa terjebak pada tahapan rencana semata.
“Kita tidak boleh hanya berhenti pada perencanaan. Yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” tegas Todotua.
Perpaduan antara melimpahnya hasil bumi, komitmen eksekusi dari pemerintah, serta kekuatan modal konsorsium Toyota, Pertamina NRE, dan Danantara menjadi pondasi kuat bagi Lampung untuk memimpin peta transisi energi bersih di tingkat nasional.






