Alpukat, Menanti Hilirisasi yang Masih Tertunda

Alpukat, Menanti Hilirisasi yang Masih Tertunda
Proses penyortiran dan penepungan biji alpukat. Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menjadikan pengolahan pascapanen sebagai solusi utama mencegah kerugian ekonomi di Lampung. Foto: Ilustrasi/Wiki/Kirka/Iz

Kirka – Provinsi Lampung menduduki peringkat sepuluh besar daerah penghasil alpukat terbanyak tingkat nasional.

Fakta besarnya angka produksi justru berbenturan dengan realitas rantai tata niaga komoditas di lapangan.

Jutaan ton hasil panen mengalir ke Pulau Jawa dalam bentuk bahan mentah tanpa pernah melewati satu pun proses pengolahan pascapanen.

Melihat fenomena arus keluar bahan baku yang terus terjadi, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah situasi sebagai kerugian finansial terstruktur bagi wilayah asal.

Petani maupun pemerintah kabupaten dipastikan kehilangan ceruk pendapatan besar akibat absennya fase pabrikasi lokal.

“Praktik pengiriman komoditas tanpa proses pengolahan adalah bentuk kebocoran ekonomi daerah yang sistematis.

“Kita hanya jadi penyuplai bahan mentah, sementara nilai tambahnya dinikmati daerah lain secara penuh,” ungkap Mahendra Utama, Senin, 28 September 2026.

Secara terperinci, konsep teori nilai tambah membuktikan setiap tahapan pascapanen pasti melipatgandakan harga jual.

Penjualan buah utuh sangat berisiko merugikan petani karena karakter biologis komoditas mudah membusuk.

“Alpukat segar memiliki batasan umur simpan sangat pendek serta rentan rusak selama perjalanan darat.

“Ongkos transportasi jelas memotong margin petani secara signifikan.

“Ketika buah dan biji alpukat diolah menjadi tepung, nilai jualnya meningkat secara eksponensial karena produk jauh lebih stabil, tahan lama, dan aplikasinya sangat luas,” beber Mahendra.

Bicara soal biji yang disinggung sang pemerhati pembangunan, bagian yang selama bertahun-tahun berakhir di tong sampah ternyata menyimpan kandungan pati berkualitas tinggi.

Penelitian Universitas Hasanuddin mengonfirmasi tahapan pembuatan tepung biji mulai dari proses perendaman, pengeringan, hingga penggilingan presisi sangat menentukan karakteristik fisik, kimiawi, serta kadar gizi produk akhir.

Melengkapi temuan akademis kampus di Makassar, riset Institut Teknologi Sumatera (Itera) turut membuktikan khasiat pati biji alpukat sebagai bahan pengikat pembuatan tablet industri farmasi.

Tepung biji punya profil protein, abu, serta bioavailabilitas mineral tinggi termasuk kalium.

Status bebas gluten membuat wujud fisiknya sangat pas berfungsi sebagai substitusi tepung terigu pada pabrikasi makanan ringan berkonsep sehat.

Guna mewujudkan ekosistem agroindustri utuh dari hulu ke hilir, Mahendra mengajukan dua korporasi raksasa asal Lampung sebagai cetak biru pengelolaan ideal.

PT Sari Segar Husada (Sungai Budi Group) sukses memproses kelapa mentah menjadi minyak goreng, sabun, tepung beras, tapioka, hingga gula pasir.

Transaksi ekspor entitas bisnis meraup angka Rp25,30 miliar per bulan.

Selain Sungai Budi Group, contoh sukses lain ada pada PT Great Giant Pineapple (GGP) yang mengelola 32.000 hektare kebun nanas dengan kapasitas produksi mencapai 3.500 ton per hari.

Korporasi berkapasitas masif mencatatkan angka ekspor olahan senilai 400 juta dolar AS per tahun.

Pelajaran berharga dari kedua perusahaan bermuara pada kemampuan mengintegrasikan rantai pabrikasi secara utuh.

“Kesuksesan dua entitas bisnis raksasa patut menjadi cetak biru pengelolaan komoditas alpukat.

“Jika dikelola secara sungguh-sungguh, bukan sekadar proyek percontohan sesaat, sistem agroforestri memiliki kapasitas strategis guna membangun ekosistem agroindustri yang berakar pada kearifan lokal, berkelanjutan secara lingkungan, serta tangguh secara ekonomi,” urai Mahendra.

Praktik pertanian majemuk atau agroforestri sejatinya sudah berjalan masif pada areal perkebunan Kabupaten Lampung Timur.

Petani menerapkan pola tumpang sari antara ragam tanaman buah dengan pohon tajuk tinggi.

Pendekatan lahan berlapis menciptakan banyak sumber pemasukan bagi warga dari satu hamparan tanah yang sama.

“Agroforestri bukan sekadar metode cara menanam.

“Pola tanam silang merupakan sebuah filosofi pembangunan yang memadukan kepentingan pelestarian ekologi dan perputaran ekonomi secara berdampingan,” tambah tokoh pengamat daerah itu.

Sistem penanaman komoditas silang melahirkan ketahanan ekonomi luar biasa lewat jalur diversifikasi.

Wilayah Lampung memiliki kekayaan hasil bumi melimpah mulai dari padi, jagung, singkong, pisang, alpukat, kopi, hingga kakao.

Beragam hasil panen menjadi pondasi kuat bila seluruhnya masuk tahap hilirisasi terpadu.

Langkah mendorong hilirisasi komoditas sejalan dengan gagasan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.

Kepala daerah secara tegas berpesan agar hasil bumi lokal wajib melalui proses pengolahan di dalam wilayah sendiri guna menahan perputaran modal tetap menetap di tingkat kabupaten atau kota.

“Bagaimana sisa komoditas yang belum masuk lini pabrikasi dapat diolah di Lampung. Karena itu, butuh kawasan industri pangan agar nilai tambah tetap berada di daerah,” ucap Gubernur Mirza.

Arahan eksekutif selaras dengan penegasan Rektor Itera mengenai pentingnya kehadiran mitra lapangan.

Kerangka kolaborasi antar lembaga telah terbukti sukses pada program pengembangan tepung mocaf berbahan baku singkong di Kabupaten Pringsewu.

Pemerintah kabupaten bertindak sebagai fasilitator, sementara pihak kampus mendampingi alih teknologi langsung kepada masyarakat produsen.

Sebagai muara dari seluruh gagasan, langkah konkret dapat langsung tereksekusi lewat pembentukan pusat pengolahan skala kecil di kawasan pedesaan sentra produksi.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) punya ruang mengambil peran sebagai agregator pengumpul panen, memfasilitasi pengolahan daging buah menjadi puree atau selai, lalu menggiling bijinya menjadi bahan baku serbaguna bernilai jual tinggi.