Kirka – Aroma khas fermentasi singkong langsung menyergap penciuman saat memasuki sebuah rumah produksi sederhana di kawasan Pringsewu.
Beberapa perempuan desa tampak tekun mengayak butiran putih hingga mencapai standar kehalusan optimal.
Kesibukan serupa terekam di Desa Merak Batin, Lampung Selatan, manakala kelompok warga bahu-membahu memacu kapasitas pembuatan olahan berbahan dasar pisang.
Pemandangan harian di dua lokasi berbeda menyiratkan satu pesan kuat, ekonomi pedesaan di ujung Pulau Sumatera sedang bersalin rupa.
Komoditas pertanian yang puluhan tahun terbelenggu dalam jerat perdagangan tradisional sebagai bahan mentah, kini perlahan naik kelas menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memaparkan fenomena pergerakan akar rumput sebagai tonggak revolusi ekonomi wilayah.
Menurutnya, langkah berani warga desa meninggalkan kebiasaan lama patut mendapat sorotan khusus.
“Singkong dan pisang identik dengan komoditas pasar becek.
“Namun lewat sentuhan hilirisasi cerdas oleh kelompok usaha skala mikro, keduanya berubah menjadi bintang utama substitusi pangan nasional berskala global,” urai Mahendra, Senin, 28 September 2026.
Mendobrak Stigma Bahan Mentah
Data statistik pertanian menetapkan Lampung sebagai lumbung ubi kayu raksasa penyumbang 70 persen pasokan tapioka Indonesia.
Sayangnya, angka fantastis tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
Titik lemahnya terletak pada kebiasaan menjual hasil bumi dalam bentuk paling dasar.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menangkap ketimpangan tata niaga dan mendorong perubahan fundamental.
Sikap tegas pemerintah daerah terlihat saat rombongan birokrat meninjau langsung sentra produksi Pringsewu.
“Selama puluhan tahun singkong dijual sebatas bahan baku.
“Lewat langkah hilirisasi, komoditas lokal bertransformasi menjadi bahan pangan bernilai ekonomi berlipat serta langsung siap dikonsumsi oleh masyarakat luas,” ucap Gubernur Mirza.
Kehadiran modified cassava flour atau mocaf memecah kebuntuan panjang.
Karakteristik tepung fermentasi sangat mirip gandum.
Fleksibilitasnya memungkinkan perajin menciptakan ragam penganan seperti mi, roti, nugget, hingga sosis tanpa perlu bergantung pada terigu impor.
Dari kacamata ekonomi, Mahendra menjelaskan lonjakan harga yang terjadi. Satu kilogram singkong segar bernilai sangat rendah saat ditawarkan ke pengepul.
Angkanya melonjak drastis usai melewati proses fermentasi dan masuk ke mesin giling berstandar mesh 80.
Pringsewu Menjadi Episentrum
Pengembangan kapasitas produksi tingkat desa mustahil terwujud tanpa intervensi akademisi.
Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengambil peran vital mendampingi perajin Pringsewu.
Rektor Itera, Prof. Elfahmi, menyatakan sumber daya alam berlimpah wajib mendapat sentuhan riset kampus supaya hasil inovasinya langsung mengakar ke level tapak.
Sinergi apik antara warga, akademisi, dan birokrat membuat Gubernur Mirza secara terbuka menunjuk Pringsewu sebagai wilayah percontohan.
“Pringsewu bisa menjadi pionir. Singkong dari daerah lain seperti Lampung Tengah bisa dibawa ke sini untuk diolah lebih lanjut menjadi mocaf berkualitas prima,” ujarnya.
Bupati Riyanto Pamungkas menjawab tantangan lewat gagasan Kelompok Usaha Mocaf (Kompak).
Target sasarannya sangat ambisius, menanamkan satu unit usaha ekonomi pengolahan di setiap desa.
Langkah birokrasi daerah sejalan dengan analisis Mahendra Utama soal penciptaan episentrum pertumbuhan.
Petani di wilayah sekitar tidak perlu lagi menjual panen ke pabrik raksasa atau pasar tengkulak.
Mereka cukup mengirimkan singkong ke Pringsewu, menciptakan rantai pasok terintegrasi yang menghidupkan kantong-kantong ekonomi baru.
Kebangkitan Olahan Pisang Cavendish
Geliat pemberdayaan tidak berhenti pada ubi kayu. UMKM Sekar Transad di Desa Bandar Agung mulai agresif memproduksi bubuk pisang Cavendish.
Pengolahan inovatif menuntaskan dua problem laten sekaligus, memperpanjang masa simpan komoditas rentan busuk dan membuka celah pasar bahan baku kue skala industri.
Mahendra menyuguhkan data empiris dari Desa Tegal Yoso, area penyangga Taman Nasional Way Kambas.
Pendampingan berkelanjutan mendongkrak pemahaman warga seputar metode pengolahan pisang dari angka 25 persen melompat ke 85 persen.
Kemampuan meracik produk secara mandiri ikut meroket mencapai 80 persen.
Keuntungan finansial bukan isapan jempol. Gubernur Mirza memberi ilustrasi gamblang,
“Komoditas pisang yang dibeli dari pekebun seharga Rp7.000 per kilogram bisa melonjak nilainya berkali-kali lipat setelah diolah menjadi produk turunan semacam keripik.”
Efek Pengganda dan Pasar Bebas Gluten
Ekosistem industri kecil melahirkan perputaran uang yang inklusif.
Modal tidak lari ke luar daerah. Rupiah terus berputar untuk menebus hasil panen dari tetangga, menggaji tenaga giling warga sedesa, hingga membayar kemasan dari industri sablon lokal.
Dukungan infrastruktur pemerintah terus mengalir melalui pengadaan pupuk organik cair hingga pemasangan mesin pengering di pelosok sentra.
Peran lembaga keuangan seperti Bank Mandiri turut memastikan mesin produksi tidak macet akibat kehabisan modal kerja.
Mahendra Utama menutup ulasannya dengan optimisme terukur.
Kualitas olahan desa yang terus menanjak memuluskan jalan merebut ceruk pasar makanan sehat bebas gluten (gluten free) global.
Ambisi pencapaian pertumbuhan ekonomi daerah di atas 8 persen bukan lagi sekadar retorika angka, melainkan wujud nyata keringat tangan-tangan terampil warga pedesaan.






