Kirka – Penguatan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai pelaku ekspor langsung menjadi kunci utama strategi pertumbuhan ekonomi perdesaan di Provinsi Lampung.
Langkah memangkas rantai distribusi dipastikan sanggup mendongkrak pendapatan masyarakat hingga 30 persen.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menjelaskan produk desa selama bertahun-tahun selalu dipasarkan melewati rantai sangat panjang.
Mulai dari tingkat tengkulak, pengepul, sampai bermacam perantara sebelum akhirnya bisa dikirim ke luar negeri.
“Akibatnya margin keuntungan warga berkurang drastis.
“Lewat ekspor langsung yang dimotori BUMDes, kita memotong rantai panjang tadi. Pendapatan mereka otomatis naik sampai 30 persen,” ungkap Mahendra Utama, Selasa, 22 September 2026.
Mahendra memaparkan pola perluasan pasar sangat selaras bersama gagasan Douglass North melalui export base theory.
Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sangat bergantung pada kemampuan memasarkan produk ke luar daerah.
Penerimaan devisa akan menghasilkan dampak ganda bagi putaran uang lokal tingkat perdesaan.
Kesiapan kawasan pelosok merambah pasar global tentu membutuhkan berbagai syarat penunjang.
Merujuk kajian akademik, Mahendra menyebut ada tiga aspek penentu kesiapan desa ekspor.
Ketiga faktor penting mencakup kapasitas produksi beserta kualitas produk, kelembagaan dan manajemen usaha, lalu akses pasar dan kemitraan.
“BUMDes punya kedudukan strategis sebagai lembaga ekonomi milik masyarakat guna mengoptimalkan potensi komoditas mentah.
“Desa harus proaktif membangun kemitraan bersama eksportir, lembaga pembiayaan, serta pemerintah,” tuturnya.
Pola kolaborasi antar sektor sangat pas dengan rumusan neo endogenous rural development.
Pembangunan kawasan pelosok yang tangguh butuh integrasi aksi masyarakat lokal serta dukungan pembinaan pihak luar.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Provinsi Lampung mengambil peran aktif lewat Program Desaku Maju.
Pemerintah daerah menjamin kelengkapan dokumen alur pelaksanaan agar tertata jelas.
Pendampingan bergulir mulai dari tahapan pemetaan komoditas unggulan, perbaikan tata kelola lembaga BUMDes, sampai panduan teknis pengiriman barang menembus pasar internasional.
Melalui skema pendampingan menyeluruh, entitas desa bukan sekadar berstatus penyedia bahan baku mentah.
Masyarakat desa bertransformasi menjadi pelaku industri pengolahan berstandar internasional demi memperluas cakupan pemasaran luar negeri.
“Wujud nyata kedaulatan ekonomi daerah pinggiran pada era perdagangan bebas benar-benar terwujud lewat ekspor mandiri,” pungkas Mahendra Utama.






