Kirka – Penundaan operasional 400 armada taksi hijau di Provinsi Lampung hingga akhir Mei 2026 rupanya menyimpan potensi perputaran uang bernilai fantastis.
Gaji ratusan pengemudi transportasi ramah lingkungan tersebut diproyeksikan mampu menciptakan efek domino ekonomi hingga Rp4 miliar setiap bulan bagi masyarakat lokal.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menegaskan kehadiran ratusan armada baru bukan sekadar langkah transisi energi.
Proyek transportasi publik memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi kerakyatan secara nyata.
Mengutip teori multiplier effect dari ekonom John Maynard Keynes, Mahendra menjelaskan bahwa pengeluaran konsumsi satu pihak otomatis menjadi pendapatan bagi pihak lain.
“Gaji dari 400 sopir taksi hijau kelak memicu rantai belanja harian masyarakat.
“Putaran uang akan mengalir ke warung sarapan, konter pulsa, pembayaran uang sekolah, hingga penggunaan jasa ojek,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Senin, 1 Juni 2026.
Secara matematis, proyeksi perputaran uang sangat menjanjikan.
Dengan asumsi pendapatan bersih pengemudi mencapai Rp4 juta per bulan berada di atas UMK Lampung sebesar Rp3,2 juta ditambah insentif terdapat suntikan dana segar Rp1,6 miliar ke pasar lokal setiap bulannya.
Angka bersih murni berasal dari kantong pekerja, di luar pengeluaran operasional kendaraan, tagihan listrik stasiun pengisian daya, dan biaya perawatan bengkel.
Dampak sosial program juga tergolong luas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, satu pekerja sektor transportasi rata-rata mampu menopang hidup tiga sampai empat jiwa.
Praktis, operasional taksi ramah lingkungan bakal menyokong daya beli 1.200 hingga 1.600 orang secara langsung.
Pedagang makanan, pemilik rumah kontrakan, mekanik, serta pelaku UMKM di sekitar permukiman sopir dipastikan menikmati kenaikan omzet harian.
Melalui perhitungan marginal propensity to consume (MPC) pada angka 0,6, dampak total dari injeksi awal Rp1,6 miliar berpotensi melonjak menjadi Rp4 miliar.
Kajian Bappenas (2020) turut mencatat multiplier output sektor transportasi berada pada rasio 2,3, sehingga potensi perputaran menyeluruh bisa menyentuh Rp3,68 miliar.
Nilai ekonomi kelak semakin membengkak jika memperhitungkan serapan tenaga kerja tidak langsung seperti teknisi ahli, petugas cuci mobil, dan operator stasiun pengisian daya.
Menyikapi kemunduran jadwal peluncuran, Mahendra memberikan catatan bagi pemangku kebijakan.
Keterlambatan realisasi mengindikasikan adanya pekerjaan rumah terkait kesiapan infrastruktur pendukung maupun kelengkapan regulasi daerah.
“Pemerintah harus memastikan investasi hijau terwujud, jangan sampai berhenti sebatas wacana.
“Ratusan armada taksi merupakan mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang dampaknya sangat riil,” pungkasnya.






