Imbas Konflik Global, Harga Plastik Pukul Usaha Kecil di Lampung

Imbas Konflik Global, Harga Plastik Pukul Usaha Kecil di Lampung
Ilustrasi pedagang jajanan pasar di Pasar Gintung, Bandarlampung, memegang mika dan tas kresek di kiosnya. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel rupanya berbuntut panjang hingga ke lapak-lapak pedagang di Bandarlampung, Lampung.

Terganggunya pasokan bahan baku dunia memicu lonjakan harga kantong plastik secara tajam, yang kini mulai menggerus margin keuntungan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Bagi pedagang yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai, situasi tersebut menciptakan tekanan ganda.

Di satu sisi biaya operasional membengkak, namun di sisi lain mereka khawatir menaikkan harga jual akan membuat pelanggan berpaling.

Di lorong Pasar Gintung, Mega (40) tampak sibuk menata aneka jajanan pasar dan kue basah dagangannya.

Ia mengaku pening lantaran harga plastik mika dan kantong kresek naik cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Kendati modal kemasan melonjak, ia memilih tetap bertahan pada harga lama.

“Belum berani kalau harus menaikkan harga kue, nanti pelanggan malah lari. Sementara waktu ya untung dipangkas sedikit untuk menutup biaya plastik,” tutur Mega saat ditemui, Selasa, 7 April 2026.

Guna menyiasati keadaan, Mega kini lebih selektif dalam memberikan kantong tambahan.

Ia mulai membiasakan diri menyatukan beberapa jenis kue ke dalam satu wadah besar ketimbang memisahkannya satu per satu.

Selain itu, ia kerap mengimbau pembeli untuk membawa tas belanja sendiri guna menekan pemakaian kresek.

Tekanan serupa dirasakan Arum (32), seorang pedagang bumbu giling di pasar yang sama.

Sebagai penjual bumbu basah, penggunaan plastik bening berukuran kecil (plastik ons) merupakan kebutuhan mutlak yang tak bisa ditawar.

“Setiap takaran bumbu harus dibungkus plastik satu per satu.

“Kalau harga plastiknya naik, otomatis beban harian kami ikut bertambah. Padahal margin dari jualan bumbu itu sangat tipis,” keluh Arum.

Demi menjaga keberlangsungan usahanya, Arum terpaksa menyetok plastik dalam jumlah besar sekaligus untuk mendapatkan harga grosir yang lebih miring.

Strategi tersebut dilakukan agar ia tidak perlu mengerek harga bumbu per ons yang bisa memicu protes dari para ibu rumah tangga.

Bergeser ke los daging dan unggas, keluhan serupa meluncur dari mulut Lukman (48), seorang pedagang ayam potong.

Kenaikan harga plastik jenis tebal yang anti bocor membuatnya harus putar otak agar tak merugi setiap hari.

“Biasanya daging ayam selalu saya bungkus pakai kresek rangkap dua supaya air atau sisa darahnya tidak merembes keluar.

“Tapi karena harga kresek tebal sekarang lagi gila-gilaan, terpaksa cuma saya pakaikan satu lapis saja,” ungkap Lukman.

Untuk mengantisipasi agar bungkusan tidak mudah sobek, Lukman mengakalinya dengan cara mengikat plastik lebih rapat.

Ia juga tak segan menyarankan pelanggannya yang berbelanja dalam jumlah banyak untuk membawa boks atau wadah tertutup sendiri dari rumah.

Fenomena ini menjadi potret nyata betapa rentannya ketahanan ekonomi masyarakat di tingkat bawah terhadap gejolak pasar global.

Harapan para pelaku usaha di Lampung kini tertuju pada stabilitas harga bahan baku, agar peluh keringat mereka tak habis sekadar untuk menutupi ongkos kemasan.