Kirka – Hujan deras yang mengguyur Kota Bandarlampung kerap kali berujung pada genangan air hingga banjir di sejumlah titik.
Peristiwa banjir yang melanda pada 22 Februari dan kembali berulang pada 6 Maret 2026 menjadi pengingat keras bahwa persoalan tata kota ini belum terselesaikan.
Lantas, mengapa ibu kota Provinsi Lampung ini kian rentan terhadap banjir?
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai bahwa faktor utama bencana banjir di Bandarlampung bukanlah semata-mata karena tingginya intensitas hujan, melainkan akibat kegagalan tata ruang dan tata kelola lahan yang buruk.
“Faktor utamanya bukan hujan, tapi bagaimana kita mengelola lahan.
“Alih fungsi lahan yang masif, terutama di kawasan hulu, telah menghilangkan daerah resapan air secara drastis,” ujar Mahendra Utama, Sabtu, 7 Maret 2026.
Ia menyoroti keberadaan tiga bukit bekas tambang ilegal di wilayah kota yang menjadi bukti nyata bagaimana eksploitasi ekonomi telah mengalahkan daya dukung lingkungan.
Kondisi ini makin memprihatinkan dengan hilangnya fungsi ekologis kawasan rawa yang kini disulap menjadi permukiman padat penduduk.
Sebagai contoh, kawasan Jalan Pembangunan A5 yang dulunya merupakan area rawa, kini tertutup oleh bangunan permanen.
Fakta itu turut diamini oleh Lurah Way Dadi, Sopyan.
Akibat alih fungsi, air kehilangan tempat untuk meresap saat hujan deras turun.
Minim Perawatan
Selain faktor mayor berupa tata ruang, buruknya infrastruktur drainase menjadi faktor minor yang memperparah keadaan.
Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Yusnadi, turut menyoroti kondisi saluran air kota yang dinilai tidak memadai dan minim perawatan.
Tumpukan sampah dan sedimentasi yang dibiarkan menyumbat aliran air, ditambah penyempitan gorong-gorong akibat imbas proyek pelebaran jalan seperti yang terpantau di Jalan Ryacudu membuat sistem pembuangan air gagal berfungsi optimal.
Lebih lanjut, Mahendra Utama menegaskan bahwa faktor alam seperti intensitas hujan yang tinggi serta pasang air laut (rob) di kawasan Panjang memang memperparah genangan, namun hal tersebut pada dasarnya hanyalah pemicu.
“Banjir ini menjadi bencana karena sistem pertahanan kota kita telah rusak oleh ulah kita sendiri,” pungkasnya.






