Kirka – Ribuan kilometer dari pesisir Teluk Persia, guncangan ekonomi akibat tertutupnya Selat Hormuz mulai mengirimkan riak kepanikan ke berbagai belahan dunia.
Eskalasi konflik pasca serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada akhir Februari 2026 tak pelak melambungkan harga minyak mentah hingga 9 persen.
Namun, di tengah bayang-bayang krisis energi global dan ancaman lonjakan harga BBM, perekonomian Provinsi Lampung justru diproyeksikan memiliki semacam imunitas alami, setidaknya jika badai geopolitik ini hanya berlangsung dalam tempo satu bulan.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah fenomena tersebut.
Kunci keselamatannya, kata Mahendra, bukan terletak pada manuver moneter yang rumit, melainkan pada hamparan kebun sawit, kopi, dan lahan pertanian di Sai Bumi Ruwa Jurai.
“Ketika Pulau Jawa mungkin harus megap-megap karena pabrik-pabrik industrinya sangat rakus energi dan bergantung pada minyak mentah, Lampung justru berdiri kuat di atas tanahnya sendiri.
“Basis produksi kita adalah komoditas agrikultur yang tidak secara langsung sensitif terhadap guncangan impor minyak dalam skala besar,” papar Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 6 Maret 2026.
Bantalan Empuk Bernama Pertanian
Klaim tersebut sejalan dengan realita statistik.
Mengacu pada data BPS per Februari 2026, mesin ekonomi Lampung yang sukses mencetak PDRB Rp525,85 triliun (tumbuh 5,28 persen secara tahunan) digerakkan secara dominan oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Sektor itu menyumbang porsi raksasa sebesar 26,90 persen.
Di saat rantai pasok global tercekik, komoditas andalan ekspor Lampung seperti turunan CPO, kopi, dan lada justru masih menjadi primadona di pasar internasional.
Fondasi inilah yang menjadi bantalan empuk penahan krisis.
Kementerian Keuangan dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya telah menyalakan alarm.
Penutupan Selat Hormuz, urat nadi bagi 20 persen minyak dunia telah menyeret harga Brent mendekati angka psikologis US$80 per barel. Jika meluas, harga bisa terbang hingga US$100.
Efek Domino
Meski fundamental daerah kuat, bukan berarti Lampung terbebas dari ancaman.
Namun, Mahendra menjelaskan bahwa dari kacamata makroekonomi, transmisi guncangan harga minyak (supply-side shock) ke daerah memakan waktu yang tidak sebentar.
“Teori ekonominya jelas. Efek domino dari inflasi global ke daerah itu lambat.
“Jika perang atau penutupan selat ini hanya berlangsung satu bulan, ekonomi Lampung hanya akan merasakan rembesan kecil di permukaan,” urainya.
Menurut analisisnya, pukulan telak yang menggerus daya beli dan memperlambat pertumbuhan baru akan memar terasa setelah 3 hingga 6 bulan.
“Dalam skenario satu bulani, inflasi Lampung paling banter hanya akan terkatrol 0,3 hingga 0,5 persen.
“Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua kita diyakini masih bisa melenggang di atas 5 persen,” tambah Mahendra.
Nasib Petani Gurem
Di balik ketangguhan statistik makro, Mahendra menyoroti satu titik rawan yang butuh atensi ekstra: para petani gurem.
Beban kenaikan harga minyak tidak akan menghancurkan ekonomi Lampung secara keseluruhan, tetapi akan merayap masuk melalui pintu belakang berupa kenaikan harga pupuk, ongkos transportasi darat komoditas dari desa ke pelabuhan, dan logistik pengiriman barang.
Agar kebal dari krisis pendek, Mahendra mendesak Pemerintah Provinsi Lampung untuk segera mengeksekusi tiga langkah taktis:
Proteksi Biaya Tanam: Memaksimalkan penyerapan Kartu Petani Berjaya untuk memastikan akses dan harga pupuk bersubsidi tetap terjaga di tingkat akar rumput.
Kendalikan Jalur Logistik: Memantau ketat pergerakan harga BBM di tingkat eceran serta mengintervensi potensi lonjakan ongkos angkut darat.
Manuver Pasar Ekspor: Membuka dan mendorong jalur ekspor non Hormuz agar komoditas Lampung tetap terserap pasar global tanpa terjebak bottleneck logistik laut.
“Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Lampung bisa selamat. Secara data, kita sangat tangguh.
“Tantangannya adalah, mampukah pemerintah daerah bermanuver cepat agar krisis ini justru menjadi momentum bagi Lampung untuk unjuk gigi sebagai lumbung komoditas pangan dan ekspor yang tahan banting?” pungkas Mahendra






