Loss and Damage Perubahan Iklim di Lampung Capai Rp3,6 Triliun

Petani Lampung Diimbau Beralih ke Pertanian Organik saat El Nino
Seminar Hari Bumi dengan tema "Peran Generasi Muda Dalam Menekan Laju Pertumbuhan Iklim" di Auditorium Prof. Abdulkadir Muhammad Gedung A Fakultas Hukum Unila, Selasa (16/5/2023). Foto: Josua Napitupulu

KIRKA – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung mencatat potensi Loss and Damage perubahan iklim di Lampung capai Rp3,6 triliun.

“Total Loss and Damage di Provinsi Lampung sekitar Rp3,624 triliun. Itu separuhnya dari APBD Provinsi Lampung,” kata Ahli Muda Bagian Fungsional Perencana Bappeda Provinsi Lampung, Merylia.

Hal itu disampaikan dalam Seminar Hari Bumi yang digelar Mahasiswa Fakultas Hukum Sayangi Alam (Mahusa) Universitas Lampung (Unila), di Auditorium Prof. Abdulkadir Muhammad Gedung A Fakultas Hukum Unila, Selasa (16/5/2023).

Seminar dengan tema “Peran Generasi Muda Dalam Menekan Laju Pertumbuhan Iklim” menghadirkan narasumber; Direktur Eksekutif Walhi Lampung Irfan Tri Musri, dan Dosen Teknik Kimia Unila, Dr. Eng. Dewi Agustina.

Baca Juga: Petani Lampung Diimbau Beralih ke Pertanian Organik saat El Nino

Dari data yang disampaikan Merylia, potensi Loss and Damage (Kerugian dan Kerusakan) pada sektor pertanian di Lampung menjadi bagian yang paling terdampak perubahan iklim.

“Sektor pertanian, ini kerugiannya sangat-sangat besar kerugiannya,” ujar dia.

Potensi Loss and Damage perubahan iklim di Lampung capai Rp3,6 triliun dengan rincian sebagai berikut:

Sektor Kelautan (Rp69,34) miliar, Sektor Pesisir (Rp164.99) miliar, Sektor Air (Rp237,05) miliar, Sektor Pertanian (Rp2,65 triliun), Sektor Kesehatan (Rp500) miliar lebih.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) melihat fenomena El Nino berpotensi menambah besaran Loss and Damage perubahan iklim di Lampung.

Menurut Direktur Eksekutif Daerah Walhi Lampung, Irfan Tri Musri, sektor pertanian perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.

Fenomena El Nino akan semakin memperburuk perubahan iklim di Lampung.

“Pemerintah Provinsi Lampung harus bisa memastikan keberlanjutan dan keberlangsungan pertanian,” kata dia usai acara Seminar Hari Bumi.

Irfan menjelaskan El Nino sangat berdampak pada proses gagal panen dan mengakibatkan berkurangnya sumber pangan, jika kemarau panjang terjadi.

“Kemudian, ketersediaan air semakin menipis untuk mendukung irigasi pertanian. Tentu ini akan berdampak pada perekonomian petani maupun provinsi,” ujar dia.

Oleh sebab itu, lanjut Irfan, diperlukan upaya konservasi air untuk memastikan keberlanjutan dan keberlangsungan pertanian dalam menghadapi El Nino.

“Hal kedua, yang tidak kalah penting, terkait dengan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” kata dia.

Baca Juga: Stockpile Batu Bara di Lampung Marak Tak Berizin

Irfan menekankan potensi karhutla saat kemarau panjang akibat El Nino harus menjadi atensi khusus Pemerintah Provinsi Lampung.

“Upaya mitigasi perlu dilakukan secara bersama-sama melibatkan multipihak, bukan hanya dari pemerintah provinsi, tapi bisa melibatkan satuan kerja dari KLHK, dan TNI/Polri, BPBD, dan lembaga lainnya,” ujar dia.

Pemerintah Provinsi Lampung, lanjut Irfan, juga perlu menyiapkan tim, prosedur, sarana prasarana, dan infrastruktur penanggulangan karhutla.