Kirka – Tiga atlet anggar muda Lampung berhasil menyabet dua medali emas dan satu perunggu pada kejuaraan West Java Fencing Challenge 2026 di Bandung, Jawa Barat.
Meski berangkat menggunakan biaya mandiri, para atlet pelajar asal Lampung mampu meredam persaingan wakil tuan rumah.
Dua medali emas dipersembahkan atlet binaan Fencing Development Club (FDC), M. Rafay Alfatih di kelas floret putra U-8 dan Azira Anggareska pada kategori kadet floret putri.
Sementara satu medali perunggu diraih wakil Andalas Lampung Fencing Club (ALFC), Aldila Putri Heraztin, yang turun di nomor kadet degen putri (women’s cadet epee).
Raihan medali di Bandung didapat melalui persaingan ketat sejak babak penyisihan.
Azira sukses mengunci emas kadet floret putri usai menumbangkan sejumlah atlet tuan rumah asal Sukabumi dan Bandung hingga partai final, sedangkan Rafay tampil dominan saat menghadapi lawan dari berbagai daerah di kelas floret putra U-8.
Di balik keberhasilan menembus podium juara, keberangkatan para atlet ke Jawa Barat ternyata murni mengandalkan dana pribadi orang tua.
Pelatih ALFC, Mira Daniaty, mengungkapkan bahwa status kejuaraan yang bersifat terbuka (open) membuat pembiayaan ditanggung secara swadaya oleh masing-masing keluarga atlet.
Keterbatasan biaya pula yang membuat ALFC tidak bisa menurunkan seluruh atlet andalannya untuk berlaga di Bandung.
Hanya atlet yang mendapat dukungan penuh dari orang tua yang dapat diberangkatkan mengikuti kompetisi.
“Karena sifatnya kejuaraan open, atlet berangkat mandiri. Jadi, atlet yang bisa berangkat adalah mereka yang didukung orang tuanya.
“Beberapa atlet yang ikut juga baru pertama kali turun di kejuaraan, sehingga menjadi pengalaman untuk ke depannya agar lebih baik,” kata Mira, Kamis, 15 Oktober 2026.
Bagi ALFC, medali perunggu yang dibawa pulang Aldila menjadi hasil positif sekaligus modal berharga.
Pengalaman bertanding di tingkat antar daerah sangat dibutuhkan para atlet muda untuk mengasah mental dan kemampuan sebelum menghadapi turnamen berikutnya.
Sementara dari kubu FDC, kesuksesan meraih dua medali emas tidak lepas dari penerapan program latihan yang terukur.
Pelatih FDC, Enny Handayani, memfokuskan persiapan atlet pada penguasaan teknik dan ketahanan fisik dengan porsi 60 berbanding 40 persen.
Komposisi latihan sengaja disesuaikan dengan jadwal sekolah serta aktivitas tambahan para atlet.
Pengaturan waktu diterapkan secara fleksibel agar persiapan menuju kejuaraan tetap berjalan optimal tanpa mengganggu pendidikan formal.
“Kalau saya, latihannya 60 persen teknik dan 40 persen fisik. Kendala anak-anak itu sekolah, jadi saya atur supaya mereka tetap bisa latihan meskipun ada kegiatan sekolah,” ujar Enny.
Guna menjaga konsistensi performa, FDC menjadwalkan latihan rutin di lapangan sebanyak empat kali dalam sepekan.
Di luar jadwal latihan bersama, para atlet juga dibekali pekerjaan rumah berupa latihan mandiri agar kondisi fisik dan sentuhan teknik tetap stabil di tengah kesibukan sekolah.






