Kirka – Wajah ekspor Provinsi Lampung mulai mengalami pergeseran signifikan pada paruh pertama tahun 2026.
Sektor pertanian yang secara historis menjadi tulang punggung perekonomian daerah kini perlahan meredup, digantikan oleh dominasi sektor industri pengolahan yang sukses merajai pundi-pundi devisa internasional.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung pada 1 Juli 2026, total nilai ekspor daerah selama periode Januari hingga Mei menyentuh angka US$2.362,99 juta.
Catatan tersebut memang terkoreksi turun sekitar 5,14 persen apabila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun, perombakan struktur penyumbang ekspor di dalamnya menunjukkan tren yang patut disoroti.
Sektor industri pengolahan tampil kokoh dengan mencetak nilai ekspor senilai US$1.656,53 juta, sekaligus mengamankan porsi mayoritas sebesar 70,10 persen dari total keseluruhan ekspor Lampung.
Kinerja mesin pabrikasi bahkan mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,69 persen dibandingkan lima bulan pertama tahun 2025.
Kondisi yang jauh berbeda justru menghantam sektor pertanian.
Ekspor hasil bumi kebanggaan masyarakat merosot drastis hingga 44,78 persen, dengan nilai capaian yang tertahan di angka US$320,14 juta.
Fenomena penyusutan tersebut memaksa kontribusi sektor agraris dalam pembentukan struktur nilai ekspor menyusut ke level 13,55 persen.
Penurunan tajam kinerja agraris sangat dirasakan pada komoditas perkebunan andalan daerah.
Laporan BPS menyoroti golongan kopi, teh, dan rempah-rempah yang mengalami kontraksi terdalam, anjlok hingga 45,15 persen.
Sebaliknya, keperkasaan industri pengolahan banyak ditopang oleh stabilnya kinerja pengiriman barang setengah jadi maupun jadi.
Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati sukses menguasai pangsa ekspor dengan kontribusi mencapai 43,46 persen dari total barang nonmigas yang dikirim ke luar negeri.
Selain itu, geliat ekspor barang nonmigas juga diwarnai oleh anomali positif pada golongan bahan kimia organik.
“Golongan bahan kimia organik mengalami peningkatan nilai ekspor tertinggi sebesar 170,46 persen,” ungkap laporan tertulis dari BPS Lampung, dikutip pada Kamis, 2 Juli 2026.
Meskipun laju ekspor pertanian sedang terengah-engah, ketahanan ekonomi Lampung secara makro masih sangat solid.
Rapor perdagangan internasional daerah sepanjang Januari sampai Mei 2026 tetap mencatatkan surplus masif senilai US$1.647,51 juta.
Keuntungan besar tersebut murni didorong oleh surplus pada sektor nonmigas yang mencapai US$1.682,71 juta, menutupi angka defisit tipis pada sektor migas.
Hingga menjelang pertengahan tahun, produk-produk asal Lampung paling banyak terserap di Benua Amerika dan Asia.
Amerika Serikat masih menempati singgasana sebagai negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai transaksi mencapai US$344,26 juta, dibuntuti oleh Tiongkok di urutan kedua dengan nilai US$304,23 juta.
Kedigdayaan pasar internasional membuktikan bahwa pergeseran fokus ke industri pengolahan sukses menjaga ritme perdagangan daerah tetap menguntungkan.






