Kirka – PT Kereta Api Indonesia (Persero) segera mengeksekusi megaproyek penyatuan jaringan rel di Pulau Sumatera.
Membawa nilai investasi mencapai Rp350 triliun, rencana pembangunan yang merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto tersebut ditargetkan mampu menyambungkan lintasan dari Bandarlampung hingga Banda Aceh.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan integrasi transportasi perkeretaapian lintas provinsi kini masuk dalam prioritas jangka panjang.
Tujuannya memperkuat konektivitas antar wilayah yang selama puluhan tahun masih terkotak-kotak.
“Berdasarkan arahan dari Pak Presiden, yaitu bagaimana kita menghubungkan antara Banda Aceh dengan Bandarlampung,” kata Bobby, dikutip pada Kamis, 4 Juni 2026.
Bobby menjelaskan, infrastruktur rel di Sumatera sejauh pengamatan masih beroperasi secara terpisah.
Masyarakat maupun pelaku angkutan logistik belum bisa menikmati layanan koridor yang menyatu dari ujung utara hingga selatan.
“Kalau kita lihat yang existing sekarang hanya sepotong-sepotong dari Bandarlampung sampai Palembang.
“Kemudian Bandarlampung sampai Lubuk Linggau. Dari Medan juga sedikit, dari Padang juga sedikit,” tuturnya.
Mengatasi persoalan konektivitas tersebut, KAI menetapkan fokus awal pada wilayah Sumatera bagian utara.
Prioritas utamanya menyasar penyambungan jalur sepanjang 478 kilometer yang membentang antara Banda Aceh dan Besitang, Sumatera Utara.
Sebagai catatan, saat ini, dokumen Detail Engineering Design (DED) untuk rute itu sedang dalam tahap penyusunan.
Proyek di Aceh mencakup reaktivasi lintasan mati Banda Aceh-Sigli (80 kilometer) serta Sigli-Bireuen-Lhokseumawe-Besitang (398 kilometer).
Bersamaan dengan upaya di ujung utara, perusahaan pelat merah tersebut juga bersiap menghidupkan kembali 248,5 kilometer rel lama di Sumatera Barat.
Rutenya meliputi ruas Naras-Sungai Limau, Kayu Tanam-Padang Panjang-Bukittinggi, hingga Solok-Muarakalaban.
Ekspansi tidak berhenti pada reaktivasi. Berdasarkan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS), terdapat rencana pembangunan rel baru sepanjang 1.110 kilometer.
Bagian paling penting bagi pergerakan ekonomi Sumatera bagian selatan terletak pada rencana koridor Kertapati-Tarahan-Bakauheni, serta peningkatan kapasitas lintasan angkutan batu bara Tanjung Enim Baru-Tarahan II.
Guna merealisasikan seluruh cetak biru pengembangan, KAI menaksir kebutuhan biaya konstruksi menyentuh angka Rp20 miliar per kilometer khusus untuk tipe jalur tunggal (single track).
“Kalau total pembangunan jaringan rel Sumatera dari ujung ke ujung, bisa sekitar 20 sampai 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp350 triliun,” pungkas Bobby.






