Ribuan Warga Tumpah Ruah, Pesta Budaya Sekura Meriahkan 2 Syawal di Lampung Barat

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Pesta Budaya Sekura Meriahkan 2 Syawal di Lampung Barat
Semarak Pesta Budaya Sekura Lampung Barat: Ribuan peserta dari berbagai pekon dan kecamatan antusias meriahkan perayaan 2 Syawal di Bumi Beguai Jejama Sai Betik. Foto: Arsip Istimewa/Kirka/I

Kirka – Perayaan Idulfitri di Kabupaten Lampung Barat tak pernah sekadar soal gema takbir dan silaturahmi keluarga.

Memasuki 2 Syawal 1447 Hijriah yang jatuh pada Minggu, 22 Maret 2026, jalanan di Bumi Beguai Jejama Sai Betik mendadak riuh rendah.

Ribuan manusia berbalut rupa-rupa topeng dan kostum eksentrik melebur dalam eforia Pesta Budaya Sekura, sebuah ritus komunal berusia ratusan tahun yang menolak usang ditelan zaman.

Tahun ini, episentrum semarak budaya tersebut membelah di sejumlah kantong wilayah.

Gelombang massa terpantau memadati kawasan Padang Dalom dan Way Mengaku di Balik Bukit, Sinar Jaya Muara Jaya II di Kebun Tebu, Kenali di Belalau, hingga merambah Sukabumi dan Sukaraja di Kecamatan Batu Brak.

Tidak hanya warga lokal yang tumpah ke jalan, para pemudik dan wisatawan dari luar daerah pun tampak antusias menyaksikan karnaval jalanan ini dari jarak dekat.

Daya pikat utama karnaval ini terletak pada dualisme karakter yang ditampilkan para pesertanya, Sekura Kamak dan Sekura Betik.

Keduanya menyuguhkan visual yang bertolak belakang, namun merajut satu harmoni.

Sekura Kamak hadir mewakili kebebasan berekspresi.

Tampil dengan pakaian lusuh, atribut nyeleneh, hingga topeng berwajah jenaka, kelompok ini kerap memancing gelak tawa sekaligus menyisipkan kritik satir atas kondisi sosial secara halus.

Di sisi lain, Sekura Betik mengambil peran menjaga wibawa estetika.

Menggunakan balutan kain miwang sakral peninggalan budaya Sekala Bekhak, mereka melenggang elegan bak penjaga identitas leluhur.

Menariknya, penggunaan penutup wajah dalam tradisi ini bukanlah ajang untuk bersembunyi.

Lebih dari itu, topeng menyimbolkan peleburan ego dan kelas sosial.

Di balik lapisan topeng tersebut, pejabat daerah, saudagar, hingga masyarakat biasa berbaur tanpa sekat kasta untuk merayakan hari kemenangan.

Tangan Pemuda

Napas panjang tradisi Sekura terbukti berutang besar pada militansi generasi muda setempat.

Khoi, pentolan kelompok Anker Squad asal Batu Brak, memandang karnaval ini jauh lebih besar dari sekadar hiburan jalanan.

Ditemui di sela-sela acara di Pekon Kenali, Khoi menuturkan bahwa kostum yang ia kenakan sengaja dirancang secara hibrida mengkawinkan pakem masa lalu dengan sentuhan kontemporer.

“Bagi kami, ini soal identitas. Kalau bukan anak mudanya yang menjaga, siapa lagi? Yang paling mendasar, kebebasan berekspresi ini tetap harus menjunjung tinggi etika,” ujar Khoi.

Semangat serupa disuarakan Rama, pemuda dari Balik Bukit yang mengaku telah akrab dengan topeng Sekura sejak masih kanak-kanak.

Baginya, turun ke jalan adalah sebuah panggilan kultural.

“Orang luar saja kagum melihat budaya kita, apalagi kita sebagai tuan rumah. Memastikan kesenian ini tidak punah adalah tugas wajib kami,” ucapnya bangga.

Magnet Mudik dan Ekosistem Pariwisata

Gaung Sekura nyatanya sukses menembus batas wilayah administrasi Lampung Barat.

Deni, warga Bandarlampung yang tengah pulang kampung, sengaja memboyong istrinya demi membuktikan langsung kemeriahan yang kerap viral di jagat maya tersebut.

“Selama ini cuma bisa mantau lewat sosmed. Kebetulan momen mudiknya pas, jadi sekalian nonton. Eksekusinya memang luar biasa keren,” akunya kagum.

Komentar tak kalah menarik datang dari Rika, pelancong asal Pesisir Barat.

Di luar kekagumannya pada kreativitas peserta, ia menyoroti pentingnya merawat substansi nilai di balik karnaval ini.

Menurut Rika, pelestarian warisan budaya jangan sampai berhenti pada seremoni tahunan.

“Seni yang bagus ini idealnya terintegrasi dengan keseharian masyarakat, entah lewat muatan lokal di pendidikan atau ruang kreatif lainnya, supaya keaslian nilainya tetap membumi,” pesannya.

Hingga matahari condong ke barat, riuh tetabuhan dan arak-arakan Sekura masih menggema.

Lebih dari sekadar pesta pasca Ramadan, tradisi ini sukses membuktikan diri sebagai jangkar identitas, medium silaturahmi tanpa batas kelas, sekaligus aset pariwisata premium yang dimiliki Provinsi Lampung.