KIRKA – Rembuk Stunting Bandar Lampung dukung percepatan pencegahan stunting nasional agar prevalensi turun hingga 14 persen pada 2024 dari 24,4 persen (hasil Survei Status Gizi Indonesia, 2021).
Pada acara Rembuk Stunting “Aksi Ketiga Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Kota Bandar Lampung Tahun 2022” Senin, 1 Agustus 2022, pemkot berkomitmen prevalensi stunting di 2024 nanti menjadi 10 persen dari angka 16 persen tahun ini.
“Grafik stunting di Bandar Lampung, alhamdulilah menurun setiap tahunnya. Dari angka prevalensi 19,4 persen (2021) kita berencana menurunkan menjadi 16 persen (2022). Sehingga di 2024 kita bisa turun menjadi 10 persen angka stuntingnya. Insyaallah lebih bagus nilainya dari nasional,” ujar Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Bandar Lampung, Santi Sundari.
Dia menjelaskan Rembuk Stunting Bandar Lampung merupakan aksi ketiga dari delapan Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di kota setempat.
“Aksi pertama menganalisa masalah, jadi kita menggali informasi dari Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kelurahan dan TPPS Kecamatan, untuk kita bahas di TPPS Kota. Kemudian aksi kedua adalah penyusunan rencana kerja kita untuk menanggulangi masalah tadi,” kata Santi Sundari.
Pada rencana aksi ketiga ini, lanjut dia, hasil analisis situasi dan rancangan rencana kegiatan intervensi penurunan stunting diintegrasikan dan dituangkan dalam komitmen bersama.
“Jadi kita konvergensi lintas sektoral untuk penanganan stunting, baik dari KUA, petugas kesehatan, camat, lurah, Dinas PPKB, dan Bappeda,” ujar dia.
Aksi konvergensi ini akan menyasar tujuh kecamatan lokus stunting di antaranya Tanjungkarang Barat, Panjang, Kedaton, Enggal, dan Kemiling.
“Kita pantau terus melalui puskesmas dan posyandu, memberikan pendampingan untuk ASI eksklusif, makanan bergizi, sanitasi dan PHBS yang baik,” kata dia.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.
IDI Bandar Lampung Siapkan Petugas Skrining
Rembuk Stunting Bandar Lampung dukung percepatan pencegahan stunting nasional mendapatkan perhatian dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Bandar Lampung.
Ketua IDI Bandar Lampung, M Khadafi Indrawan SpAn, menyampaikan penyebab stunting pada anak tidak hanya persoalan gizi buruk.
“Ada banyak faktor, di antaranya ekonomi dan pengetahuan orangtua terkait nutrisi dan gizi,” ujar dia.
IDI Bandar Lampung berencana menjalin kerja sama dengan mahasiswa KKN dari Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Universitas Malahayati untuk melakukan skrining.
“Kita akan mencoba lebih menggiatkan promosi, edukasi, dan pelatihan-pelatihan bagi tenaga kesehatan,” kata dia.
Program pengentasan prevalensi stunting ini dimulai tahun ini untuk 20 kecamatan se-Bandar Lampung dan akan dievaluasi pada 2023 mendatang.
Penyadartahuan masyarakat tentang stunting, tidak imbangnya antara tinggi dan berat badan dengan usia anak, dinilai sangat penting agar anak bisa segera mendapatkan perhatian khusus dari petugas kesehatan.
“Selama ini banyak orang salah memahami stunting. Bukan berarti anak pendek itu stunting, karena faktor genetik kedua orangtua juga berpengaruh. Tapi kalau dia stunting, sudah pasti pendek,” ujar dia.
Pertumbuhan Ekonomi Menurunkan Prevalensi Stunting
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bandar Lampung, Khaidarmansyah, menyampaikan stunting erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.
Untuk menurunkan angka prevalensi stunting dibutuhkan keluarga yang matang, kesiapan mental, dan kemampuan ekonomi.
“Dari hasil analisis situasi, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin banyak pendapatan masyarakat, daya beli juga meningkat untuk belanja kebutuhan gizi tambahan,” kata dia.
Namun hal terpenting menurut Khaidarmansyah adalah pencegahan stunting dengan memenuhi kebutuhan gizi bagi ibu hamil dan menyusui, menjaga sanitasi lingkungan, akses pelayanan kesehatan, hingga kelahiran anak.
Melalui aksi ketiga konvergensi, lanjut dia, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) akan mengalokasikan anggaran pada penanganan stunting.
“Rembuk Stunting Bandar Lampung ini diperlukan supaya setiap OPD tahu perannya masing-masing. Angka prevalensi ini harus kita turunkan dengan membuat program yang tepat sasaran melalui konvergensi,” tutup dia.






