Inflasi Lampung Melandai ke 3,51 Persen, Namun Harga Beras Tetap Jadi Hantu Pengeluaran Warga

Inflasi Lampung Melandai ke 3,51 Persen, Namun Harga Beras Tetap Jadi Hantu Pengeluaran Warga
Tingkat inflasi tahunan Provinsi Lampung berada di angka 3,51 persen pada penutupan kuartal ketiga 2026. Sektor pangan menyumbang tekanan harga paling besar mencapai 1,31 persen. Foto: Arsip BPS/Kirka/Iz

Kirka – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat perkembangan menggembirakan terkait pergerakan harga barang dan jasa.

Tingkat inflasi tahunan (year-on-year) pada bulan September 2026 tercatat sebesar 3,51 persen.

Angka ini menunjukkan tren penurunan atau melandai bila dibandingkan bulan sebelumnya, maupun periode yang sama di tahun lalu.

Secara bulanan (month-to-month), wilayah Bumi Ruwa Jurai hanya mengalami sedikit kenaikan harga, yakni 0,14 persen pada September 2026.

Meskipun secara agregat tekanan ekonomi terlihat mereda, realita di pasar tradisional dan kantong belanja ibu rumah tangga bercerita lain.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penekan utama daya beli.

Berdasarkan data resmi BPS, kelompok makanan menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,24 persen.

Lebih rinci lagi, komoditas cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,12 persen, disusul oleh beras sebesar 0,10 persen.

“Penyumbang utama inflasi September 2026 secara m-to-m adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau,” terang laporan BPS Provinsi Lampung, dilansir pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Bila ditarik dalam rentang tahunan, ancaman terhadap dapur warga semakin nyata.

Harga beras masih kokoh sebagai hantu utama penyumbang inflasi year-on-year dengan andil mencapai 0,33 persen.

Posisi kedua ditempati emas perhiasan yang ikut mengerek inflasi sebesar 0,32 persen, diikuti bensin sebesar 0,29 persen, dan minyak goreng 0,19 persen.

Kondisi ini memberikan gambaran bahwa meski angka inflasi secara umum turun, kebutuhan pokok esensial, khususnya karbohidrat utama warga, masih menguras pengeluaran rumah tangga.

Bandar Lampung Catat Kenaikan Harga Tertinggi

Sementara itu, disparitas harga antar wilayah di Lampung masih terjadi.

Dari empat daerah yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kota Bandar Lampung mencatatkan inflasi tahunan paling tinggi.

Ibukota provinsi ini mengalami inflasi year-on-year mencapai 3,74 persen dengan IHK 110,97.

Sebaliknya, Kabupaten Lampung Timur menjadi daerah dengan angka inflasi paling rendah, yakni 3,00 persen.

Sementara dua wilayah lainnya, Kabupaten Mesuji dan Kota Metro, masing-masing mencatatkan inflasi tahunan sebesar 3,71 persen dan 3,38 persen.

Meski harga beras dan cabai masih mengimpit, BPS juga mencatat kabar baik berupa deflasi atau penurunan harga pada sejumlah komoditas.

Bawang merah menjadi penyeimbang utama dengan andil deflasi bulanan sebesar -0,09 persen.

Disusul kemudian oleh daging ayam ras (-0,06 persen), bawang putih (-0,03 persen), serta jagung manis dan minyak goreng yang masing-masing menyumbang deflasi -0,02 persen secara month-to-month.