FOBI Lampung Bidik Barongsai Jadi Primadona Sport Tourism Kota Baru

FOBI Lampung Bidik Barongsai Jadi Primadona Sport Tourism Kota Baru
Pengurus FOBI Lampung dalam Musprov 2026 dan ilustrasi aksi Barongsai di atas tiang yang ditargetkan menjadi ikon sport tourism. Foto: Arsip KONI/DBS/Kirka

Kirka – Peta pembinaan Barongsai di Provinsi Lampung mulai bergeser.

Tak lagi sekadar identik dengan atraksi budaya saat Imlek, cabang olahraga (cabor) ini kini diproyeksikan menjadi instrumen vital dalam pengembangan Sport Ecotourism di kawasan Kota Baru.

Target strategis tersebut mencuat dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Lampung yang dihelat di Gedung Yayasan Suaka Insan, Minggu, 8 Februari 2026.

Selain agenda rutin pemilihan ketua, forum ini menjadi titik balik reorientasi program kerja organisasi.

Wakil Ketua Umum IV KONI Lampung, Ahmad Chrisna, menegaskan bahwa Barongsai memiliki nilai jual ganda, sebagai olahraga prestasi dan magnet pariwisata.

Ia menyebut kawasan Taman Kehati di Kota Baru yang tengah dikembangkan KONI sebagai lokasi ideal untuk mengintegrasikan kedua potensi tersebut.

“Barongsai punya daya tarik visual yang kuat. Jika dikelola serius, ini bisa menjadi ikon sport tourism kita di Kota Baru, sejalan dengan visi olahraga berwawasan lingkungan yang sedang kita bangun,” ujar Chrisna.

Namun, Chrisna mewanti-wanti agar kepengurusan baru tidak hanya berkutat di Bandarlampung.

Ia memberikan mandat khusus agar FOBI segera melakukan jemput bola ke kabupaten/kota potensial seperti Mesuji, Tulang Bawang, dan Lampung Barat.

Menurutnya, sosialisasi masif diperlukan untuk menjaring bibit atlet baru.

“Potensi peminat di daerah itu besar, tapi wadahnya belum maksimal. Kalau roadshow ini jalan, saya optimis Barongsai akan jadi lumbung prestasi baru bagi KONI Lampung,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Harian PB FOBI, Arifin Himawan, menyoroti aspek teknis pembinaan.

Mewakili Ketua Umum PB FOBI Edy Kusuma yang notabene putra daerah Lampung, Arifin mengingatkan bahwa status sebagai anggota KONI menuntut profesionalitas tinggi.

Ia menekankan agar pelatih dan atlet di Lampung segera meninggalkan pola latihan tradisional dan beralih ke standar regulasi internasional.

Hal ini krusial agar atlet tidak gagap regulasi saat terjun di level yang lebih tinggi.

“Pembinaan harus upgrade. Penilaian juri di pertandingan itu sangat teknis dan mengacu standar dunia.

“Jangan sampai kita punya semangat, tapi kalah karena tidak paham aturan main internasional,” tegas Arifin.

Arifin pun menyambut positif sinergi antara prestasi dan pariwisata yang digaungkan Lampung.

Berkaca pada kesuksesan Kejurnas di Bali dan Yogyakarta, ia menilai Lampung punya modal kuat untuk menjadi tuan rumah kejuaraan nasional, bahkan sebagai persiapan menuju bidding tuan rumah PON 2032.