Kirka – Gelombang pelancong yang kembali ke Pulau Jawa via Pelabuhan Bakauheni mulai membeludak.
Hingga Rabu, 25 Maret 2026, grafik penyeberangan di koridor Sumatera-Jawa mencatat rekor kenaikan volume mobilitas ekstrem, menembus angka 70 persen dibandingkan musim Lebaran tahun sebelumnya.
Eskalasi pergerakan ini terekam jelas pada posko data H+1 (Senin, 23 Maret).
Sebanyak 25.332 unit roda empat dan roda dua menjejali area dermaga, melonjak tajam 70,4 persen dari periode serupa yang hanya menyentuh 14.866 unit.
Tak kalah masif, volume individu tembus 91.657 orang atau surplus nyaris 60 persen.
Tren padat merayap ini terus bertahan hingga H+2 (Selasa, 24 Maret), menyumbang tambahan puluhan ribu penumpang hanya dalam kurun waktu setengah hari.
Meski angka-angka tersebut tampak fantastis, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengingatkan situasi ini baru fase awal.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, membeberkan bahwa kumulasi 142.288 orang dan 37.634 armada yang telah menyeberang baru merepresentasikan 15 persen dari total keseluruhan pemudik.
“Fase kritis belum usai. Kami memproyeksikan kepadatan susulan akan kembali memuncak pada akhir pekan ini, tepatnya Sabtu (28 Maret) hingga Minggu (29 Maret).
“Pemudik wajib meramu ulang jadwal keberangkatan agar tidak terjebak horor antrean panjang,” sebut Heru.
Saringan Berlapis dan TBB
Merespons potensi penumpukan, otoritas pelabuhan tak mau kecolongan.
General Manager ASDP Cabang Bakauheni, Partogi Tamba, memastikan 28 hingga 33 feri disiagakan setiap harinya.
Guna mengimbangi volume yang datang, otoritas mempraktikkan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB).
Strategi ini diklaim ampuh memangkas waktu sandar kapal demi mempercepat rotasi penyeberangan.
Lebih jauh, antrean di bibir pelabuhan dicegat lebih dini melalui buffer zone atau kantong parkir di sepanjang jalur arteri maupun Tol Trans Sumatera.
Titik seperti Rest Area KM49B, KM20B, Terminal Gayam, dan RM Gunung Jati kini disulap menjadi area saringan berlapis.
Di sinilah petugas memburu pendatang yang menyalahi aturan administratif.
“Area ini bukan sekadar penahan laju (delaying system), tapi titik verifikasi ketat. Kendaraan tanpa dokumen tiket sah atau salah jadwal otomatis kami tempel stiker merah.
“Sebaliknya, stiker hijau menjadi paspor mulus mereka menuju lambung kapal,” tegas Partogi.
Skema serupa juga berlaku di Pelabuhan Merak dengan memanfaatkan KM63, KM48, dan Jalur Lingkar Selatan.
Tiket Daring
Satu aturan yang pantang dilanggar pada arus balik kali ini adalah larangan berburu tiket di tempat (go show).
ASDP telah menyegel total loket fisik di pelabuhan.
Akses menyeberang murni bergantung pada reservasi daring via aplikasi Ferizy, yang sejatinya sudah bisa diakses dua bulan sebelum hari H.
Mereka yang datang bertangan kosong dipastikan harus putar balik.
Menilik rekam jejak sejak H-10 hingga H+1, rute Sumatera menuju Jawa telah melayani perpindahan 572.270 nyawa dan 127.363 armada angkutan.
Catatan statistik ini menjadi sinyal kuat sekaligus tantangan operasional raksasa bagi pengelola pelabuhan.
Ratusan ribu sisa pemudik yang masih menahan diri di Sumatra dipastikan akan menguji ketangguhan infrastruktur Bakauheni dalam beberapa hari ke depan.






