Gemuruh Mesin Kanan di Lebak Budi: 2.000 Skuteris Padati Lampung Mods Mayday 2026

Gemuruh Mesin Kanan di Lebak Budi: 2.000 Skuteris Padati Lampung Mods Mayday 2026
Ribuan skuteris dari berbagai komunitas melintasi jalanan kota menuju titik kumpul di Pasar Raya Lebak Budi, Bandarlampung, dalam gelaran Lampung Mods Mayday 2026. Mengusung tema Back to the Roots, ajang ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus menghidupkan ekonomi UMKM setempat. Foto: Yopie Pangkey/Kirka/I

Kirka – Sekitar dua ribu pencinta skuter dari berbagai komunitas tumpah ruah memadati kawasan Pasar Raya Lebak Budi, Bandarlampung, pada Minggu, 24 Mei 2026 kemarin.

Kehadiran ribuan mesin kanan ini menjadi puncak kemeriahan ajang tahunan otomotif dan kultur pop, Lampung Mods Mayday 2026, yang tahun ini mengusung tema Back to the Roots.

Sebelum memusatkan kegiatan di area pasar, kemeriahan sudah terasa sejak sore.

Ribuan peserta yang tampil gaya mengenakan atribut khas kultur mods seperti jaket parka, blazer, hingga sepatu boots, berkumpul di depan Rumah Dinas Gubernur Lampung, Mahan Agung.

Dari titik awal tersebut, rombongan melakukan konvoi melintasi jalur protokol kota.

Iring-iringan skuter klasik hingga modern yang telah mendapat sentuhan modifikasi personal ini membelah Jalan Dr. Susilo, Jalan Diponegoro, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kartini, dan berakhir di Jalan Imam Bonjol.

Meski peserta membeludak, panitia memastikan konvoi berjalan tertib dengan tetap mengutamakan keselamatan lalu lintas dan menghormati pengguna jalan lain.

Ketua Pelaksana Lampung Mods Mayday 2026, Bobby Aldian Praja, menjelaskan bahwa tema Back to the Roots dipilih sebagai bentuk refleksi komunitas.

Tujuannya adalah mengembalikan ruh kegiatan pada akar kultur mods yang dinilai sempat memudar dalam beberapa tahun terakhir akibat pesatnya arus digitalisasi.

“Ini adalah ajang silaturahmi. Bagi skuter yang jarang keluar garasi, bagi mereka yang ingin tampil, ini waktunya.

“Kami ingin kawan-kawan kembali ke akarnya, karena belakangan esensi kumpul dan solidaritasnya mulai luntur,” ujar Bobby.

Ia menegaskan bahwa Mods Mayday bukan eksklusif milik satu komunitas tertentu, melainkan ruang bersama lintas generasi.

“Acara ini dari kita untuk kita. Skuter, fashion, dan musik adalah energi positif yang kami bawa untuk merayakan budaya tahunan ini,” tambahnya.

Atmosfer keakraban dan energi positif itu dirasakan langsung oleh para peserta.

Dani, salah satu scooterist sekaligus pegiat fotografi di Bandarlampung, menyebut daya tarik utama acara tahun ini bukan sekadar pada deretan motor yang terparkir, melainkan vibe jalanan yang sangat kental dan menyatukan.

“Lengkap sekali rasanya. Dalam satu hari ini, saya bisa ngaspal bareng, ketemu kawan-kawan lama dari dunia fotografi, dan santai mengobrol soal kopi dengan sesama pelaku UMKM.

“Suasananya cair banget begitu masuk kawasan pasar,” ungkap Dani.

Pemilihan Pasar Raya Lebak Budi sebagai lokasi acara memang terbukti strategis.

Konsep ruang publik berbasis pasar rakyat menciptakan interaksi yang lebih terbuka dibandingkan acara komunitas di ruang tertutup.

Kultur mods yang tak bisa lepas dari elemen hiburan juga diakomodasi dengan apik.

Kemeriahan sore hingga malam itu diisi oleh hentakan musik ska, britpop, hingga alternative rock dari deretan musisi lokal seperti Maskaryo, Janskin, dan Jalur Alternatif.

Tak ketinggalan, sentuhan kearifan lokal turut disuguhkan lewat penampilan Tari Lampung oleh pesonel Pesenggiri Festival yang didukung penuh oleh The Hurun Group.

Menariknya, gelaran Lampung Mods Mayday 2026 juga membawa multiplier effect bagi perekonomian warga sekitar.

Beragam tenant kuliner di Pasar Raya Lebak Budi, mulai dari penjaja nasi goreng, jajanan tradisional, jamu, hingga kedai kopi, kebanjiran pesanan dari ribuan pengunjung.

Asrofa Aziz, pemilik Toko Kopi Mineral, mengaku antusias dengan konsep acara komunitas yang berbaur langsung dengan ekosistem pasar.

“Ramai sekali hari ini. Banyak teman-teman scooterist datang ngopi dan nongkrong di sini. Kami tentu senang, acara seperti ini membawa dampak nyata menghidupkan suasana pasar,” katanya.

Senada dengan Asrofa, pemilik kedai Lebudia, Yudi Vaizol, juga mencatat lonjakan pengunjung yang signifikan.

“Biasanya memang ramai, tapi kali ini perputarannya jauh lebih besar. Banyak yang datang ngopi sambil mengobrol dan menikmati acaranya sampai malam,” tuturnya.

Lewat Lampung Mods Mayday 2026, komunitas skuter di Bandarlampung membuktikan bahwa kultur jalanan tidak hanya tentang hobi dan eksistensi, tetapi juga membawa dampak ekonomi positif bagi ruang publik.

Seperti ditegaskan Bobby, kembali ke akar bukan berarti mundur ke belakang, melainkan menjaga nilai solidaritas agar terus hidup dan relevan melintasi zaman.