Strategi PDRB Kabupaten Pringsewu: Menakar Lonjakan Ekonomi dan Tantangan Keberlanjutan

Strategi PDRB Kabupaten Pringsewu: Menakar Lonjakan Ekonomi dan Tantangan Keberlanjutan
Ilustrasi: Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menyoroti proyeksi lonjakan PDRB Kabupaten Pringsewu yang diprediksi tembus Rp16,2 triliun pada 2025-2026. Foto: Arsip Wiki/@bigmahe168/Kirka/I

KirkaKabupaten Pringsewu kini tak lagi bisa sekadar dipandang sebagai daerah perlintasan di Provinsi Lampung.

Dengan populasi melampaui 400 ribu jiwa, daerah berjuluk Kota Bambu ini tengah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru dengan lonjakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menembus angka 7 hingga 8 persen (year-on-year) pada awal 2025.

Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menyebut tren ekonomi Pringsewu menunjukkan kurva pemulihan yang sangat impresif.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Pringsewu yang sempat tertahan di angka Rp11,5 triliun pada 2020 akibat pandemi, kini terus merangkak naik.

“Pringsewu membuktikan ketangguhannya. Dari Rp12,3 triliun pada 2021, terus mendaki ke Rp15,1 triliun di akhir 2024.

“Memasuki 2025, proyeksi kita sangat optimistis, bisa menyentuh kisaran Rp16,2 triliun,” ungkap Mahendra, Sabtu, 21 Februari 2026.

Sejalan dengan naiknya PDRB, kesejahteraan masyarakat yang diukur dari PDRB per kapita juga terkerek dari Rp28 juta pada awal pandemi menjadi proyeksi melampaui Rp37 juta pada tahun ini.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi hampir 40 persen terhadap struktur ekonomi.

Tiga Katalis Utama

Mahendra yang juga menjabat sebagai Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindag ini menjelaskan, lonjakan PDRB Pringsewu bukanlah kebetulan.

Terdapat tiga mesin penggerak utama yang mengakselerasi pertumbuhan ini:

Akselerasi Konektivitas: Perbaikan jalan provinsi di Lampung berdampak langsung pada efisiensi logistik.

Akses mulus membuat biaya angkut komoditas unggulan seperti kopi dan lada Pringsewu jauh lebih kompetitif.

Modernisasi Agribisnis: Penerapan teknologi seperti sistem bioflok pada perikanan darat sukses mendongkrak produktivitas hingga 30 persen.

“Pringsewu kini mulai bertransformasi dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi pusat hilirisasi yang bernilai tambah tinggi,” jelas Mahendra.

Surplus Perdagangan Regional: Pringsewu mengambil peran vital sebagai pemasok komoditas ekspor non-migas, mendukung surplus neraca perdagangan Lampung yang mencapai USD234,31 juta pada awal 2025.

Salah Kelola dan Kesenjangan

Meski angka makro menunjukkan tren positif, Mahendra memberikan catatan kritis.

Merujuk pada teori pertumbuhan endogen Paul Romer, ia menekankan bahwa kemajuan Pringsewu akan sangat bergantung pada inovasi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Jika 23.529 hektare lahan perkebunan dikelola dengan integrasi Smart Farming, Pringsewu bisa menjadi kutub pertumbuhan (Growth Pole).

Namun, jika salah urus, ada harga mahal yang harus dibayar.

“Pertumbuhan PDRB yang tinggi akan kehilangan maknanya jika angka kemiskinan masih bertahan di atas 10 persen. Itu adalah risiko lost opportunity,” tegas Mahendra.

Ia juga menyoroti tiga ancaman utama yang membayangi Pringsewu:

  1. Inefisiensi Rantai Pasok: Ketidaksiapan infrastruktur pendukung berisiko menghilangkan potensi ekspor hingga 20 persen.
  2. Defisit Kesejahteraan Petani: Jika harga komoditas di tingkat petani ditekan oleh inflasi perdesaan, Nilai Tukar Petani (NTP) akan anjlok di tengah angka pertumbuhan PDRB yang megah.
  3. Kesenjangan Sosial: Modal yang masuk tanpa manajemen bersih dan transparan hanya akan memperkaya segelintir pihak (diminishing returns), tidak menyentuh masyarakat desa.

“Pembangunan Pringsewu ke depan butuh pendekatan holistik. Inovasi harus benar-benar menyentuh akar rumput, bukan sekadar jargon di meja birokrasi.

“Lonjakan PDRB ini harus jadi berkah nyata bagi tiap keluarga di Pringsewu,” pungkas Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis tersebut.