Kirka – Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menekankan pentingnya sentuhan humanis dalam pengembangan infrastruktur ruang publik seperti bandara.
Menurutnya, kelengkapan fasilitas transit bukan sekadar soal megahnya bangunan fisik, melainkan bagaimana tata ruang mampu mengakomodasi pengalaman kultural para penumpang.
Pengalaman transit acapkali berlalu sebagai waktu kosong.
Namun bagi Mahendra, momen menunggu jadwal terbang justru bisa bertransformasi menjadi ruang produksi makna.
Ia merujuk pada suasana saat menanti penerbangan Garuda Indonesia GA 74 rute Jakarta–Tanjungkarang (CGK-TKG) di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, usai menempuh perjalanan udara dari Surabaya menggunakan penerbangan GA 323.
Sembari menunggu waktu boarding pukul 12.05 WIB, perpaduan menu singkong goreng dan es kopi Americano di sebuah kedai menjadi representasi perlintasan budaya.
Mahendra menjelaskan fenomena gaya hidup penumpang lewat kacamata teori konsumsi simbolik pemikir asal Prancis, Jean Baudrillard.
“Konsumsi merupakan sistem makna yang aktif. Pilihan menu di ruang transit menjadi penanda identitas yang berpijak pada nilai lokal, sekaligus tetap terhubung dengan ritme urban-global,” kata Mahendra, Minggu, 4 Oktober 2026.
Merujuk pada pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu tentang praktik sosial, Mahendra mengungkapkan bahwa menyantap sajian lokal semacam singkong goreng di bandara bertaraf internasional merupakan bentuk resistensi halus terhadap tingginya biaya konsumsi.
Perpaduan kudapan agraris Nusantara bersama kopi yang menjaga kewaspadaan membuat proses menunggu tetap produktif.
Pembangunan fasilitas transportasi berskala besar sudah sepatutnya memperhatikan sisi psikologis masyarakat.
Kelayakan dan kualitas sebuah bandara akan terukur dari kemampuannya menyediakan ruang bagi tubuh maupun ingatan manusia untuk berlabuh sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.






