Kirka – Rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat, Inggris, dan Yordania baru saja usai.
Lawatan strategis ini bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan langkah agresif yang menghasilkan keuntungan nyata bagi kepentingan nasional.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menegaskan bahwa gaya shuttle diplomacy yang diterapkan Presiden Prabowo membuktikan bahwa diplomasi adalah benteng pertahanan ekonomi.
“Jika biasanya lawatan presiden kerap dinarasikan sekadar seremonial atau pemborosan anggaran, kali ini berbeda.
“Yang dibawa pulang bukan sekadar foto bersama, melainkan nota kesepahaman dan pengakuan internasional yang menyentuh kepentingan nasional,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Kamis, 26 Februari 2026.
Terobosan Tarif Dagang di Amerika Serikat
Mahendra menyoroti keberhasilan lobi tingkat tinggi di Washington D.C.
Selain bertemu Presiden terpilih Donald Trump dalam forum Board of Peace, Presiden Prabowo sukses menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Menurut Mahendra, kesepakatan itu adalah hasil negosiasi alot yang berbuah manis bagi sektor riil di Indonesia.
“Ini kemenangan perdagangan yang berdampak langsung. Tarif produk ekspor Indonesia ke AS berhasil ditekan turun signifikan, dari 32 persen menjadi 19 persen,” jelasnya.
Penurunan tarif dinilai menjadi napas baru bagi industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, hingga kelapa sawit yang selama ini terhimpit hambatan tarif tinggi.
Dampak lanjutannya adalah perluasan lapangan kerja di dalam negeri.
Investasi Maritim dan Teknologi dari Inggris
Sorotan selanjutnya tertuju pada kunjungan ke London, Inggris.
Mahendra menyebutkan bahwa pemerintah berhasil mengamankan komitmen investasi senilai £4 miliar atau setara Rp90 triliun.
“Itu bukti keberpihakan pada sektor maritim. Kerja sama tersebut mencakup pembangunan 1.582 unit kapal penangkap ikan domestik yang akan memperkuat armada perikanan kita,” ungkap Mahendra.
Selain sektor maritim, Indonesia juga menandatangani kerja sama semikonduktor melalui Badan Pengelola Investasi (Danantara) dengan raksasa teknologi Arm Limited.
Mahendra menilai langkah ini sebagai lompatan teknologi yang menempatkan Indonesia sebagai mitra rantai pasok global, bukan sekadar pasar.
Penghormatan Militer di Yordania
Di babak akhir lawatan, kunjungan ke Amman, Yordania, menjadi simbol menguatnya pengaruh politik Indonesia.
Mahendra menyoroti momen saat pesawat kepresidenan RI dikawal jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Kerajaan Yordania saat memasuki wilayah udara negara tersebut.
“Bukan sekadar protokol, itu simbol penghormatan dan kepercayaan tinggi. Bahkan Putra Mahkota Al Hussein bin Abdullah II langsung menjemput di bandara,” tambahnya.
Dalam pertemuan dengan Raja Abdullah II, kedua negara membahas isu strategis mulai dari pertahanan hingga pemulihan Gaza.
Posisi Indonesia dan Yordania sebagai anggota Board of Peace menjadikan kedua negara pintu masuk yang legitimit dalam upaya stabilitas kawasan Timur Tengah.
Tepis Narasi Sinis
Mahendra juga menekankan bahwa langkah ekspansif di luar negeri diperlukan dalam era globalisasi untuk mengamankan kebutuhan rakyat di dalam negeri.
“Kunjungan adalah perpanjangan tangan dari meja perundingan untuk kesejahteraan rakyat di kampung halaman.
“Shuttle diplomacy Prabowo membuahkan hasil konkret. Indonesia kini tidak lagi hanya hadir, tetapi diperhitungkan,” pungkas Mahendra.






