Peternak Milenial Lampung: Transformasi Digital Peternakan Kambing di Era Modern

Peternak Milenial Lampung: Transformasi Digital Peternakan Kambing di Era Modern
Ilustrasi: Tinggalkan cara lama, milenial Lampung sulap peternakan kambing jadi industri berbasis teknologi. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Wajah sektor peternakan di Provinsi Lampung mengalami transformasi fundamental di tahun 2025 lalu.

Tak lagi identik dengan cara-cara konvensional, peternakan kambing kini mulai didominasi oleh generasi milenial yang melek teknologi.

Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menyoroti fenomena itu sebagai kebangkitan ekonomi baru.

Menurutnya, adopsi ekosistem digital yang masif telah mengubah lanskap peternakan lokal menjadi industri yang modern dan presisi.

“Tahun 2025 imenandai era baru. Jika sebelumnya sektor ini identik dengan petani tradisional di pedesaan, sekarang anak muda mengambil alih dengan pendekatan teknologi.

“Stigma beternak itu kumuh dan kuno mulai runtuh,” ujar Mahendra dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 26 Februari 2026.

Transformasi Digital

Mahendra menjelaskan, kunci perubahan ini terletak pada penerapan Digital Ecosystem.

Para peternak muda di Lampung kini tidak sekadar memelihara hewan, tetapi mengelola data.

Penggunaan teknologi memungkinkan manajemen kandang berbasis real time.

Mahendra merinci beberapa keunggulan sistem yang kini diterapkan, mulai dari pemantauan kesehatan ternak melalui sensor Internet of Things (IoT), analisis data pertumbuhan, hingga sistem recording terintegrasi untuk pembibitan (breeding).

“Pakan pun kini dikelola dengan presisi. Dampaknya sangat signifikan pada efisiensi operasional dan kualitas ternak,” tambahnya.

Selain aspek teknis, digitalisasi juga memangkas rantai distribusi yang selama ini menjadi keluhan utama peternak.

Dari populasi kambing di Lampung yang mencapai hampir 2 juta ekor, sebagian besar kini mulai dipasarkan melalui platform digital dan marketplace khusus ternak.

“Pola ini memotong rantai distribusi panjang yang merugikan. Peternak bisa menikmati margin keuntungan yang lebih adil,” tegas Mahendra.

Investasi dan Dukungan

Mahendra menilai, keberanian generasi muda terjun ke sektor ini tidak lepas dari dukungan kebijakan strategis Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.

Kebijakan tersebut dinilai berhasil menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Integrasi antara teknologi finansial (fintech) untuk permodalan, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan e-commerce, menjadikan peternakan sebagai lahan bisnis yang prospektif.

“Kami melihat visinya jelas, ingin mengubah persepsi publik.

“Sekarang peternakan adalah bisnis seksi dengan teknologi canggih dan potensi ekonomi besar. Ini yang ditangkap oleh milenial kita,” paparnya.

Dampak

Secara makro, kontribusi sektor peternakan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung yang berada di kisaran 4,4 hingga 4,7 persen diprediksi akan terus menanjak.

Mahendra optimis, dengan akses pasar yang luas dan peningkatan kualitas bibit melalui inseminasi buatan, Lampung bisa menjadi role model peternakan nasional.

Ia juga mencatat adanya diversifikasi pendapatan.

Peternak milenial kini tidak hanya menjual daging atau susu, tetapi juga mengembangkan produk turunan dan konsep agro eduwisata.

“Ini membuka sumber pendapatan baru sekaligus edukasi. Bagi generasi muda, pintu inovasi terbuka lebar. Waktu terbaik untuk memulai adalah sekarang,” pungkas Mahendra.

Dengan tren positif ini, Lampung diproyeksikan mampu menjadi pusat pengembangan peternakan berbasis digital terdepan di Indonesia.