Kirka – Di tengah dinamisnya isu ketahanan pangan global, Provinsi Lampung terus mengakselerasi perannya di kancah internasional.
Bukan lagi sekadar pengekspor komoditas mentah, Bumi Ruwa Jurai kini menyuplai superfood atau bahan pangan padat nutrisi yang menjadi incaran masyarakat urban di berbagai negara, mulai dari New York hingga Rotterdam.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa sektor perkebunan daerah ini memiliki daya tahan (resilience) yang luar biasa.
Berdasarkan data ekspor periode 2020 hingga 2025, sektor ini sukses menjadi tulang punggung ekonomi dengan surplus yang impresif, meski sempat dihantam fluktuasi ekonomi global.
“Lampung sedang mengukuhkan posisinya sebagai dapur nutrisi dunia.
“Kesuksesan ini tak lepas dari dedikasi ribuan petani dan ketajaman visi pengusaha lokal yang mampu menembus standar kurasi internasional yang ketat,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Sabtu, 21 Februari 2026.
Menurut Anggota Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindag ini, terdapat empat komoditas unggulan atau Emas Hijau yang kini menjadi ujung tombak ekspor Lampung:
1. Kopi Robusta: Andalan Baru Produk Kesehatan
Kopi Robusta Lampung kini bertransformasi menjadi produk kesehatan berkat tingginya kandungan asam klorogenat antioksidan kuat yang baik untuk metabolisme.
Pada tahun 2025, total nilai ekspor Lampung menyentuh angka US$6,64 miliar, di mana kopi dan turunannya memberikan kontribusi signifikan.
“Hilirisasi adalah kuncinya. Kita mulai merambah ekspor kopi bubuk dan instan yang kini menguasai pasar Maroko hingga Filipina,” jelas Mahendra.
2. Lada Hitam: King of Spices yang Tak Tergantikan
Lada Hitam Lampung (Lampung Black Pepper) masih mempertahankan reputasi legendarisnya berkat kadar piperin yang tajam, yang secara medis berfungsi sebagai peningkat penyerapan nutrisi dalam tubuh.
Menyumbang 21 persen produksi nasional, lada Lampung tetap menjadi primadona di Amerika Serikat dan India, membuktikan daya tawarnya mampu bersaing ketat dengan Vietnam.
3. Kakao: Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Kandungan flavonoid pada kakao asal Lampung sukses memikat produsen dark chocolate di Eropa.
Dengan kapasitas produksi menyentuh 54.000 ton per tahun, pemerintah terus mendorong hilirisasi kakao menjadi bubuk dan lemak cokelat untuk mengejar nilai tambah (value added) yang lebih tinggi.
4. Nanas: Kuasai Supermarket Jepang dan Belanda
Lampung juga dikenal sebagai raksasa nanas dunia. Varietas Queen yang kaya enzim bromelain (anti inflamasi) telah rutin mengisi rak supermarket di Jepang dan Belanda.
Sebagai sentra penyumbang 26,29 persen produksi nasional, efisiensi perkebunan nanas di Lampung kini menjadi tolok ukur best practice agribisnis skala besar di Indonesia.
Sinergi dan Iklim
Mahendra, yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis, menegaskan bahwa pencapaian ekspor komoditas adalah hasil kerja keras kolektif ekosistem pertanian.
Ia secara khusus mengapresiasi para petani yang menjaga kualitas produk hingga memenuhi standar ISO.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya penyelarasan kebijakan dari pemerintah pusat hingga daerah.
“Langkah strategis itu sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam kedaulatan pangan dan eksekusi taktis Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
“Di tingkat daerah, kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan para bupati telah menciptakan iklim investasi dan pendampingan petani yang sangat suportif,” paparnya.
Meski demikian, menatap periode 2026-2031, Mahendra mengingatkan adanya dua tantangan besa, anomali perubahan iklim (El Nino dan La Nina) serta konsistensi kebijakan.
Ia mendesak agar sektor pertanian Lampung segera beralih sepenuhnya ke konsep climate smart agriculture melalui penggunaan bibit unggul tahan kekeringan dan sistem irigasi modern.
“Jika ritme hilirisasi, regulasi ekspor, dan dukungan pembiayaan untuk UMKM ini konsisten dijaga, bukan tidak mungkin pada akhir dekade Lampung akan menjadi hub superfood terbesar di Asia Tenggara.
“Modalnya sudah kita miliki, kini tinggal bagaimana menjaga nyala api konsistensi tersebut,” pungkas Mahendra.






