Dampak Ekonomi Energi Terbarukan Lampung untuk Kesejahteraan

Dampak Ekonomi Energi Terbarukan Lampung untuk Kesejahteraan
Infografis: Lompatan capaian EBT Lampung dorong investasi, industri, dan kesejahteraan berkelanjutan. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Provinsi Lampung mencatatkan lompatan signifikan dalam transisi energi nasional.

Sepanjang 2024, realisasi pemanfaatan energi daerah ini menembus 4,08 juta ton setara minyak (TOE), dengan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) mendominasi hingga 36,32 persen atau sebesar 1,48 juta TOE.

Angka itu tidak hanya melampaui target Rencana Umum Energi Daerah (RUED) tahun 2025, tetapi juga menempatkan Lampung di garis depan sebagai lumbung energi bersih di Indonesia.

Namun, di balik angka statistik tersebut, terdapat potensi raksasa bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menilai capaian ini merupakan momentum emas.

Menurutnya, dominasi EBT bukan sekadar prestasi ekologi, melainkan katalisator kuat untuk mengentaskan kemiskinan dan memacu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

“Capaian bukan sekadar angka di atas kertas. Ini penegasan bahwa Lampung, sebagai pintu gerbang Sumatera dengan lebih dari 9 juta penduduk, memiliki keunggulan komparatif.

“Tingginya realisasi EBT adalah tiket kita menuju penciptaan lapangan kerja hijau dan diversifikasi ekonomi yang tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Senin, 23 Februari 2026.

Efek Pengganda 

Mahendra yang juga menjabat sebagai TPP Gubernur Lampung Bidang Perindag menjelaskan, transisi ke energi bersih akan memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang masif.

Salah satu sektor yang paling diuntungkan adalah pertanian dan perkebunan lokal.

Mahendra memaparkan, komoditas andalan Lampung seperti tebu, singkong, kopi, kakao, dan lada kini memiliki nilai tambah baru.

“Petani tidak hanya menjual bahan mentah. Dengan adanya industri pengolahan berbasis energi bersih, misalnya pengembangan bioetanol, petani akan mendapat sumber pendapatan baru dari rantai pasok bioenergi,” tegas eks Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh tersebut.

Secara teori ekonomi, ketersediaan energi yang andal dan murah akan menekan biaya produksi industri dan rumah tangga.

Ujungnya, daya saing ekspor produk Lampung meningkat, dan inflasi regional dapat ditekan.

Dukungan Lintas Sektor

Optimisme Mahendra sejalan dengan langkah strategis yang tengah didorong oleh pemerintah daerah dan pusat.

Saat ini, beberapa kabupaten seperti Tulang Bawang, Tulangbawang Barat, Waykanan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur tengah aktif terlibat dalam survei seismik 2D sepanjang 688,5 kilometer.

Ketua Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan, menegaskan pentingnya proyek tersebut.

“Jika survei seismik 2D Lampung-Sumatera Selatan ini berjalan lancar, kontribusinya mencapai 17,7 persen dari target energi nasional 2026. Ini bukan kegiatan kecil, tetapi sangat signifikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Bani Ispriyanto, memastikan bahwa Pemprov Lampung akan terus mengawal integrasi kebijakan ini.

“Capaian kita sudah selaras dengan visi besar mewujudkan Lampung sebagai lumbung energi terbarukan nasional,” katanya.

Tantangan dan Mitigasi

Meski menjanjikan, Mahendra Utama mengingatkan pemerintah daerah agar tidak lengah terhadap risiko transisi energi.

Menurutnya, ada tiga tantangan utama yang harus segera dimitigasi.

  • Beban APBD: Biaya investasi awal infrastruktur EBT sangat tinggi. Jika tidak direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik, hal ini bisa membebani keuangan daerah.
  • Risiko Lingkungan dan Sosial: Alih fungsi lahan untuk proyek energi harus diawasi ketat guna menghindari degradasi lingkungan dan konflik dengan masyarakat adat.
  • Pergeseran Tenaga Kerja: Pekerja di sektor energi fosil perlahan akan terpinggirkan.

“Pemerintah harus menyiapkan program reskilling (pelatihan ulang) agar mereka bisa terserap di sektor energi hijau,” tambah Mahendra.

Sebagai penutup, Mahendra mencontohkan keberhasilan beberapa daerah dan negara lain yang sukses mengawinkan EBT dengan ekonomi kerakyatan.

Mulai dari penghematan listrik via surya komunal di Desa Muara Enggelam (Kaltim), elektrifikasi UMKM di Sumba (NTT), hingga jutaan lapangan kerja baru dari inisiatif solar di China dan angin lepas pantai di Denmark.

“Realisasi energi hijau Lampung adalah langkah maju yang sangat logis.

“Asal dikelola dengan inklusif dan kolaborasi publik swasta yang kuat, transisi akan membawa masa depan Lampung yang jauh lebih mandiri dan sejahtera,” pungkasnya.