Kirka – Kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung mengalokasikan anggaran jumbo senilai Rp300 miliar untuk perbaikan jalan di Lampung Tengah (Lamteng) pada 2026 jadi langkah taktis yang krusial.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menyebut kucuran dana ini bukan sekadar proyek perbaikan fisik, melainkan stimulus vital untuk menjaga ritme pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di kabupaten yang menjadi lumbung pangan tersebut.
Menurut Mahendra, keputusan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal memprioritaskan Lamteng dalam porsi belanja infrastruktur sudah tepat.
Pasalnya, daerah ini mencatatkan pertumbuhan PDRB tertinggi di provinsi pada 2024, yakni 4,62 persen, dengan sektor pertanian sebagai tumpuan utama.
“Anggaran Rp300 miliar itu angka signifikan. Dalam kalkulasi ekonomi, ini menciptakan multiplier effect.
“Belanja pemerintah di sektor infrastruktur, apalagi di sentra produksi, akan memicu perputaran uang yang jauh lebih besar dari nilai proyeknya sendiri,” tegas Mahendra, Kamis, 26 Februari 2026.
Tenaga Pendamping Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan ini memaparkan, masalah klasik pertanian di Lampung adalah tingginya biaya logistik akibat jalan rusak.
Kondisi itu kerap menggerus margin keuntungan petani dan memicu inflasi daerah.
Dengan perbaikan struktur jalan yang masif, Mahendra memprediksi adanya efisiensi biaya transportasi hingga 20-30 persen.
Angka tersebut merujuk pada proyeksi RPIW Provinsi Lampung 2025-2034.
“Jalan yang mulus syarat mutlak atau necessary condition. Jika distribusi lancar, kerugian pascapanen minim, harga di tingkat petani terjaga, dan PDRB otomatis terdongkrak.
“Ini efek berantai yang kita harapkan,” ujar pria yang juga menjabat Presiden Komisaris PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis ini.
Diketahui, dari total Rp1,25 triliun anggaran perbaikan 62 ruas jalan dan 7 jembatan provinsi, Gubernur Mirza membidik penyelesaian jalan strategis sebelum musim mudik Lebaran 2026.
Targetnya jelas, memperlancar arus barang dan jasa.
Kendati demikian, Mahendra memberikan catatan tebal.
Efektivitas anggaran sangat bergantung pada eksekusi di lapangan.
Ia mengingatkan pentingnya ketepatan sasaran dalam menentukan ruas jalan yang diperbaiki.
“Jangan asal pilih ruas. Prioritas harus pada jalur konektivitas antardaerah dan akses menuju pasar atau kawasan industri.
“Tanpa itu, dampak ekonominya tidak akan maksimal,” ingat mantan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh (2023-2025) tersebut.
Mahendra optimistis, jika pengawasan berjalan ketat dan bebas dari praktik korupsi, kontribusi Lamteng terhadap PDRB Lampung pada 2026 bisa terkerek naik 1 hingga 2 persen.
“Tantangannya sekarang ada pada pengawasan kualitas pengerjaan. Jika mulus, ekonomi Lampung Tengah bakal melesat kencang,” pungkasnya.






