Kirka – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempati posisi tertinggi tingkat kepuasan publik dalam rilis terbaru lembaga survei Piramida Research & Consulting dengan raihan 86,2 persen.
Capaian angka yang tinggi di kementerian sektor pangan menjadi bukti bahwa masyarakat mengukur kualitas pejabat dari hasil kerja di lapangan, bukan sekadar popularitas di media sosial.
Tepat di bawah Amran, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyusul di peringkat kedua lewat perolehan 85,4 persen, diikuti Menteri Agama Nasaruddin Umar pada urutan ketiga dengan skor 84,3 persen.
Komposisi tiga besar di jajaran kabinet memperlihatkan kuatnya apresiasi warga terhadap kementerian yang menjalankan program pelayanan langsung ke lapisan bawah.
Eksponen 98, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa tingginya kepuasan publik kepada Amran Sulaiman berkaitan erat dengan dampak kebijakan pertanian yang langsung menyentuh kebutuhan petani.
Menurut Mahendra, keberhasilan program swasembada pangan serta kelancaran distribusi pupuk bersubsidi menjadi faktor penentu yang membuat reputasi Menteri Pertanian begitu kokoh.
“Kualitas seorang menteri diukur dari hasil kerja, kecepatan bertindak, serta dampak kebijakan di lapangan.
“Reputasi publik terbangun ketika kelompok sasaran benar-benar merasakan manfaat program pemerintah.
“Keberhasilan Amran membuktikan bahwa legitimasi teknis jauh lebih tahan lama ketimbang sekadar membangun citra di ruang digital,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Kamis, 15 Oktober 2026.
Tamparan bagi Pejabat Pemburu Popularitas Medsos
Sejalan dengan catatan Mahendra, Direktur Program Piramida Research & Consulting, Imad Aziz, menegaskan bahwa temuan lembaganya menjadi pengingat keras bagi para pejabat publik yang gemar memburu tanda suka (likes) di jejaring sosial.
Berdasarkan potret demografi responden Piramida, sebanyak 50,2 persen masyarakat berasal dari kalangan warga pedesaan serta kelas buruh yang menuntut bukti kerja konkret.
“Bukti kepuasan pada kinerja Mentan Amran jadi tamparan keras bagi politisi yang gila likes di medsos.
“Publik kita, di mana 50,2% adalah warga pedesaan dan kelas buruh, sangat peduli pada hasil nyata.
“Pak Amran mungkin tidak joget di TikTok, tapi program swasembada dan pupuk subsidi langsung terasa di sawah. Menteri yang sibuk bikin konten tapi kinerjanya jeblok harus belajar, publik itu butuh makan, bukan konten viral” tegas Imad.
Kinerja Nyata Jadi Mata Uang Politik Utama
Berkaca dari fakta kepuasan masyarakat, Mahendra Utama mengingatkan seluruh jajaran pembantu presiden agar menjadikan hasil survei Piramida sebagai cermin evaluasi.
Bagi Mahendra, masyarakat Indonesia sudah sangat matang dalam membedakan pejabat yang betul-betul bekerja menuntaskan persoalan rakyat dengan figur yang hanya sibuk mengemas pencitraan.
“Menteri yang bekerja senyap tetapi menghasilkan dampak luas pasti mendapat apresiasi.
“Sebaliknya, pejabat yang rajin memproduksi konten namun gagal menyelesaikan masalah bakal ditinggalkan publik. Kinerja, bukan tontonan, adalah mata uang politik utama,” tandas Mahendra.






