Jihan Nurlela dan Jembatan Lampung Timur: Menjawab Kritik dengan Kerja Nyata

Jihan Nurlela dan Jembatan Lampung Timur: Menjawab Kritik dengan Kerja Nyata
Wagub Lampung Jihan Nurlela mengawal langsung proses groundbreaking Jembatan Perintis Garuda tahap III dan IV di Lampung Timur, wujud komitmen nyata perbaikan infrastruktur daerah. Foto: Arsip Adpim/Kirka

Kirka – Sorotan tajam netizen terkait kerusakan infrastruktur di Kabupaten Lampung Timur akhirnya dijawab lunas oleh Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Jihan Nurlela.

Sempat dituding anti kritik, sang Wagub merespons polemik tersebut bukan dengan adu argumen di dunia maya, melainkan lewat aksi nyata peletakan batu pertama (groundbreaking) Jembatan Perintis Garuda tahap III dan IV.

Manuver Jihan dalam meredam krisis komunikasi publik mendapat atensi khusus dari Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama.

Menurutnya, langkah wakil kepala daerah tersebut merepresentasikan kedewasaan politik tingkat tinggi.

“Persepsi publik di media sosial sering kali runtuh seketika saat dihadapkan pada realitas fisik di lapangan.

“Momen groundbreaking tersebut memberi pesan tegas bahwa keluhan warga dituntaskan melalui kucuran semen dan rakitan baja, bukan sekadar retorika apologi,” jelas Mahendra Utama di Bandarlampung, Sabtu, 4 April 2026.

Tanggalkan Ego 

Mahendra juga menggarisbawahi pentingnya diplomasi lintas instansi dalam merealisasikan proyek vital tersebut.

Pengerjaan Jembatan Perintis Garuda sukses mengikis batas kewenangan karena terwujud berkat kolaborasi solid antara Pemerintah Provinsi Lampung, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta dukungan penuh prajurit TNI lewat program bakti fisik.

Dari perspektif tata ruang wilayah, keberadaan jembatan diproyeksikan mencetak efek ganda bagi sirkulasi ekonomi akar rumput.

Mahendra merujuk pada postulat ekonom Ragnar Nurkse tentang Vicious Circle of Poverty, di mana lingkaran setan kemiskinan hanya bisa diputus melalui injeksi modal berupa infrastruktur dasar.

“Esensi dari pengaspalan jalan maupun pendirian jembatan tidak terbatas pada pergerakan manusia semata.

“Lebih jauh lagi, fasilitas fisik berfungsi mendistribusikan peluang ekonomi dari pusat kota menuju wilayah penyangga,” paparnya.

Komitmen merampungkan pengerjaan hingga tahap IV sekaligus menepis stigma bahwa pemerintah daerah hanya bekerja reaktif layaknya pemadam kebakaran saat sebuah isu terlanjur viral.

Eksekusi

Di tengah derasnya arus informasi era digital, respons sigap birokrat kerap disalahpahami sebagai bentuk pembelaan diri.

Kendati demikian, merujuk pada teori pengawasan lingkungan lansiran Harold Lasswell, langkah konkret di lokasi proyek tetap menjadi medium paling ampuh untuk memulihkan legitimasi.

“Beliau menolak terjebak dalam pusaran debat kusir daring.

“Keputusannya turun gunung memantau langsung proyek sukses mengubah citra anti-kritik menjadi wujud nyata pemimpin eksekutorial.

“Sebuah strategi membalikkan cibiran menjadi kepercayaan publik yang sangat jitu,” tambah Mahendra.

Ke depan, Jembatan Perintis Garuda digadang-gadang bakal mengambil peran sebagai urat nadi mobilitas komoditas lokal.

Akses yang terbuka lebar diyakini memangkas ongkos logistik distribusi hasil bumi pertanian, yang bermuara pada eskalasi kesejahteraan masyarakat desa di Lampung Timur.

“Hakikatnya, panggung politik adalah ruang pembuktian. Wagub Jihan tidak hanya sedang merangkai konstruksi beton, tetapi juga merajut kembali jembatan kepercayaan antara penguasa dan rakyat.

“Mampu menyerap pil pahit kritikan untuk dilebur menjadi energi pembangunan adalah sebuah nilai plus kepemimpinan daerah,” pungkas Mahendra Utama.