Kirka – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 5 Oktober 2026 menjadi penanda era baru transformasi pertahanan negara.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, penguatan postur militer lewat pembaruan alat utama sistem persenjataan (alutsista) berjalan masif menyentuh matra darat, laut, maupun udara.
Eksponen 98, Mahendra Utama, memaparkan analisisnya terkait arah kebijakan pertahanan nasional masa kini.
Menurutnya, kedatangan deretan alutsista canggih mulai dari jet tempur Rafale, helikopter, rudal, tank, drone, hingga kapal induk merupakan wujud nyata komitmen pemerintah memperkuat benteng Republik Indonesia.
“Langkah besar penguatan alutsista selalu beriringan dengan pembangunan profesionalisme prajurit,” kata Mahendra, Senin, 5 Oktober 2026.
Ia merujuk pada pemikiran Samuel Huntington dalam buku The Soldier and the State mengenai kontrol objektif, tempat militer memiliki otonomi penuh dalam ranah pertahanan.
Sebagai pelengkap, Mahendra turut membedah gagasan Morris Janowitz tentang konvergensi.
Teori Janowitz menggambarkan interaksi dinamis antara kekuatan militer dan warga sipil yang terbentuk secara alami dalam tatanan sosial modern.
Dua perspektif keilmuan di atas tampak jelas dalam visi Presiden Prabowo.
Kepala Negara konsisten menempatkan institusi bersenjata sebagai kekuatan tangguh yang senantiasa berdiri berdampingan bersama masyarakat luas.
TNI sebagai Anak Kandung Rakyat
Mahendra lantas mengutip ulang pernyataan monumental Prabowo mengenai jati diri prajurit.
“TNI lahir dari rakyat Indonesia. TNI adalah anak kandung rakyat Indonesia, timbul dan tenggelam bersama rakyat,” ucapnya menegaskan kembali filosofi Panglima Tertinggi.
Akar kerakyatan yang kuat lantas menjadi pondasi perayaan tahun 2026 melalui tema “TNI Prima, TNI Rakyat: Indonesia Maju”.
Pasukan bersenjata bukan sekadar penjaga batas wilayah, melainkan entitas tak terpisahkan dari denyut nadi keseharian warga.
Doktrin Trisula dan Dukungan Anggaran
Upaya pemerintah merealisasikan Doktrin Trisula Perisai Nusantara mendapat dukungan finansial signifikan.
Pagu anggaran pertahanan tahun 2026 menembus angka Rp337 triliun.
Dari total dana kementerian, senilai Rp84,4 triliun khusus dialokasikan untuk membiayai belanja modernisasi persenjataan.
Doktrin pertahanan negara mengintegrasikan kekuatan seluruh matra secara utuh.
Lewat sokongan dana jumbo, kesiapan tempur dipastikan meningkat pesat sekaligus mengokohkan posisi prajurit sebagai tameng tangguh menghadapi berbagai ketidakpastian kondisi geopolitik global.






