Cegah Persiapan Buta, Lampung Utara Desak Percepatan Technical Handbook Porprov

Cegah Persiapan Buta, Lampung Utara Desak Percepatan Technical Handbook Porprov
Suasana kunjungan tim verifikasi Porprov di KONI Lampung Utara yang membahas desakan percepatan technical handbook dan efisiensi. Foto: Arsip KONI/Kirka/I

Kirka – Kunjungan Tim II KONI Lampung ke Kabupaten Lampung Utara (Lampura) untuk verifikasi berkas cabang olahraga (cabor) berkembang menjadi diskusi.

Tak sekadar urusan administrasi, KONI Lampura memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan desakan, yakni percepatan penerbitan Technical Handbook (TH) Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).

Desakan itu muncul bukan tanpa alasan. Ketidakpastian regulasi teknis dinilai menjadi penghambat utama bagi daerah dalam menyusun program latihan yang terukur.

Tanpa pegangan buku panduan sejak dini, para pelatih di daerah seolah dipaksa melakukan persiapan buta, kesulitan merancang periodisasi latihan maupun strategi seleksi atlet yang presisi.

“Kami butuh kepastian aturan main jauh-jauh hari. Jangan sampai regulasi baru turun saat injury time.

“Karena dampaknya merusak skema pembinaan yang sudah disusun,” tegas perwakilan KONI Lampura di sela-sela kunjungan Tim II KONI Lampung, Imam Safei, M.Or, dari bidang Binpres KONI lampung.

Pihak Lampura menambahkan, keterlambatan penerbitan handbook kerap memaksa daerah bekerja dua kali merevisi program latihan yang sudah berjalan hingga mengubah target sasaran secara mendadak.

Situasi inefisiensi inilah yang ingin dipangkas oleh Lampura agar persiapan menuju ajang empat tahunan tersebut lebih matang.

Selain isu regulasi teknis, efisiensi anggaran dan kualitas kompetisi juga menjadi sorotan tajam.

Koordinator Tim Verifikasi II, Nazwar Basyuni, menyoroti fenomena gemuknya nomor pertandingan yang kerap dipaksakan dalam gelaran Porprov tanpa filter kualitas yang jelas.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Naz ini, banyaknya nomor pertandingan yang tidak selektif justru menjadi beban berat bagi KONI kabupaten/kota.

“Imbasnya merembet ke segala lini, mulai dari pembengkakan anggaran kontingen, logistik yang tak efisien, hingga terpecahnya konsentrasi pembinaan atlet,” ujarnya.

Di sisi lain, pihak Lampura pun mengusulkan agar KONI Lampung lebih realistis dengan memangkas nomor-nomor non unggulan.

Hal tersebut demi menjaga marwah Porprov sebagai kompetisi yang kompetitif, bukan sekadar ajang ramai peserta.

Di tengah pembahasan regulasi dan anggaran, Lampura juga tidak lupa memperjuangkan nasib atlet potensialnya.

Salah satu nama yang disodorkan untuk mendapat atensi khusus provinsi adalah Gading Mukti Wibowo, atlet Mixed Martial Arts (MMA) yang kini tengah naik daun.

KONI Lampura berharap atlet dengan prospek menembus level nasional seperti Gading tidak dibiarkan berjuang sendirian.

Intervensi provinsi melalui pemusatan latihan terpadu dan akses kompetisi berjenjang sangat dinantikan agar aset daerah tersebut tidak layu sebelum berkembang.

“Jangan sampai pembinaan putus di kabupaten. Aset seperti ini harus dikawal agar bisa berbicara banyak di level nasional,” pungkas perwakilan Lampura.