Turun Rp550! Simak Dampak Penurunan Harga BBM Februari 2026 bagi Kantong Anda

Turun Rp550! Simak Dampak Penurunan Harga BBM Februari 2026 bagi Kantong Anda
Ilustrasi suasana di SPBU usai harga Pertamax turun menjadi Rp11.800 per Februari 2026. Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai kebijakan ini sebagai stimulus nyata bagi rakyat. Foto: Arsip Kirka/DBS/I

Kirka – Kebijakan pemerintah memangkas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi efektif per 1 Februari 2026 dinilai lebih dari sekadar koreksi pasar.

Langkah ini dianggap sebagai stimulus krusial yang langsung menyentuh urat nadi perekonomian masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut kebijakan tersebut sebagai oase bagi sektor riil.

Penurunan harga Pertamax sebesar Rp550 per liter menjadi Rp11.800, serta Dexlite menjadi Rp13.250, menurutnya adalah bukti pemerintah mampu menari dengan cantik di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

“Ini bukan sekadar angka di papan SPBU yang berganti. Ini adalah sinyal kuat bahwa negara hadir melindungi kantong rakyatnya.

“Presiden Prabowo Subianto konsisten dengan visi energi terjangkau, dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengeksekusinya dengan sangat cermat,” ungkap Mahendra saat dimintai tanggapannya, Selasa, 3 Februari 2026.

Efek Domino

Eksponen 98 ini membedah dampak penurunan harga tersebut secara mikoro.

Menurut Mahendra, selisih harga yang terlihat kecil di permukaan justru memiliki multiplier effect besar bagi rantai pasok.

Penurunan biaya transportasi dan logistik otomatis memberi ruang napas bagi pedagang dan pengusaha kecil.

Ia mencontohkan dampaknya bagi masyarakat di daerah lumbung pangan seperti Lampung.

“Bayangkan para petani di Lampung atau nelayan di pesisir. Penghematan dari belanja solar dan bensin itu sangat berarti untuk cashflow harian mereka.

“Kebijakan yang digodok di Jakarta ini ternyata denyutnya sangat terasa hingga ke daerah,” urainya.

Kelegaan masyarakat dinilai Mahendra makin lengkap dengan keputusan PT PLN (Persero) menahan tarif listrik hingga akhir Maret 2026, serta komitmen pemerintah memagari harga Pertalite tetap di angka Rp10.000 per liter untuk masyarakat bawah.

“Ada 2 beban sekaligus yang diringankan, BBM turun, listrik stabil. Ini kombinasi kebijakan yang cerdas untuk menjaga inflasi tetap rendah,” tambah Mahendra.

Kendati demikian, Mahendra mengingatkan agar momentum ini dimanfaatkan masyarakat dengan bijak.

Ia mendorong agar surplus dana yang didapat dari penghematan BBM tidak lari ke luar, melainkan diputar kembali untuk belanja produk lokal.

“Uang yang dihemat dari tangki kendaraan, kalau dibelanjakan untuk produk dalam negeri, akan mempercepat putaran roda ekonomi kita.

“Sinergi ini yang kita butuhkan untuk ketahanan ekonomi jangka panjang,” tutupnya.

Mahendra juga mengimbau publik untuk tetap disiplin menggunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan dan memanfaatkan fitur kontrol pada listrik prabayar sebagai bentuk efisiensi mandiri.