Rel Tunggal di Lampung Sudah Kehabisan Napas: Saatnya Berakselerasi dengan Double Track

Rel Tunggal di Lampung Sudah Kehabisan Napas: Saatnya Berakselerasi dengan Double Track
Ilustrasi: Kereta logistik melintas di jalur rel tunggal yang menjadi tumpuan utama distribusi barang di Lampung. Foto: Arsip Kirka/DBS/I

Kirka – Jalur rel tunggal (single track) di Lampung tak lagi sekadar bicara soal keterbatasan kapasitas, melainkan telah menjadi benang kusut yang menjerat arus logistik di Gerbang Sumatera.

Di tengah ambisi integrasi Trans Sumatera 2030, infrastruktur perkeretaapian yang ada dinilai sudah kehabisan napas dan mendesak untuk segera direvolusi.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai situasi ini sebagai bottleneck krusial.

Menurutnya, jika Lampung dan Sumatera Selatan masih bertahan dengan pola lama, kedua provinsi ini berisiko hanya menjadi penonton di tengah percepatan ekonomi kawasan.

“Rel tunggal di Lampung faktanya sudah tidak sanggup lagi. Ini bukan sekadar teori, tapi hambatan nyata bagi mobilitas orang hingga distribusi barang.

“Tanpa akselerasi ke double track, kita akan tertinggal jauh,” tegas Mahendra dalam keterangannya, Senin, 2 Februari 2026.

Berebut Jalur

Mahendra membedah persoalan teknis yang terjadi di lapangan.

Ia menunjuk fenomena berebut jalur antara kereta penumpang dan angkutan barang terutama komoditas batu bara dari Sumsel ke Pelabuhan Tarahan sebagai biang keladi inefisiensi.

Penundaan beruntun menjadi makanan sehari-hari yang menggerus daya saing ekspor daerah.

Upaya PT KAI yang telah menyiapkan 20 kereta barang dari Pelabuhan Panjang memang patut diapresiasi, namun bagi Mahendra, itu hanyalah solusi parsial.

“Langkah itu ibarat memperbesar tangki air, tapi pipanya tetap kecil dan tersumbat.

“Akar masalahnya adalah infrastruktur yang sudah jenuh. Tidak ada obat lain kecuali menambah kapasitas jalur,” cetusnya.

Jalur Pantura

Mantan aktivis ini mengajak para pemangku kebijakan untuk menengok kesuksesan Pulau Jawa.

Transformasi jalur ganda Cirebon-Surabaya sepanjang 727 km disebutnya sebagai bukti empiris yang tak terbantahkan.

Pemangkasan waktu tempuh Jakarta-Surabaya dari 11 jam menjadi 8,5 jam hanyalah puncak gunung es dari manfaat yang lebih besar.

“Lihat bagaimana Jawa Timur mampu mengalihkan satu juta kontainer per tahun dari jalan raya ke rel.

“Kemacetan Pantura terurai, konsumsi BBM ditekan, dan biaya logistik turun drastis.

“Model inilah yang harus diduplikasi di Lampung sebagai penyangga logistik strategis dari Jawa,” papar Mahendra.

Pangkas Biaya

Dalam kalkulasi Mahendra, pembangunan double track yang menghubungkan sentra produksi di Sumsel (Prabumulih-Tanjung Enim) dengan pelabuhan vital di Lampung (Tarahan dan Bakauheni) adalah sebuah game changer.

Ia meyakini, jika koridor ini terhubung rel ganda, dampaknya akan menjalar ke sektor pertanian, perkebunan, hingga manufaktur.

“Biaya logistik bisa dipangkas hingga 30 persen. Ini angka yang sangat seksi bagi investor. Artinya, kesejahteraan masyarakat Lampung dan Sumsel juga akan terkatrol naik,” analisisnya.

Kendati demikian, Mahendra mengapresiasi sinergi yang mulai terbangun antara pemerintah pusat, daerah, dan PT KAI.

Namun, ia mengingatkan agar wacana yang sudah ada seperti target penyelesaian rel dua jalur Waykanan hingga Lampung Utara tidak lagi meleset dari jadwal.

“Gerbang Sumatera tidak boleh lagi tersandera rel tunggal yang sekarat.

“Momentumnya sekarang. Saatnya kita berakselerasi di atas rel ganda,” pungkas Mahendra.