Raksasa Logistik Danantara: Mampukah Pelat Merah Mengalahkan Dominasi Swasta?

Raksasa Logistik Danantara: Mampukah Pelat Merah Mengalahkan Dominasi Swasta?
Ilustrasi kesibukan aktivitas logistik di terminal terpadu di bawah bendera Danantara (BPI) dan PT Pos Indonesia. Foto: Arsip Kirka/I/DBS

Kirka – Langkah agresif Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menggabungkan 21 entitas logistik pelat merah di bawah PT Pos Indonesia dinilai bukan sekadar aksi korporasi biasa.

Manuver ini disebut sebagai pertaruhan krusial pemerintah untuk menghentikan pendarahan keuangan yang selama ini terjadi di tubuh BUMN.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa konsolidasi adalah sebuah operasi penyelamatan mendesak.

Menurutnya, dominasi swasta yang menggurita dan inefisiensi internal BUMN telah menciptakan celah kerugian yang masif.

“Narasi penggabungan jangan dilihat sebagai seremoni birokrasi semata. Ini operasi bedah.

“Ada inefisiensi yang sudah mendarah daging yang harus diamputasi,” tegas Mahendra saat memberikan analisisnya, Jumat, 30 Januari 2026.

Pil Pahit Puluhan Triliun

Urgensi merger ini semakin tak terbantahkan pasca terungkapnya fakta bahwa 20 dari 21 perusahaan logistik negara tersebut mengalami kerugian.

Mahendra menyoroti pernyataan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, sebagai sinyal bahaya yang nyata.

Ia menggarisbawahi, kerugian tersebut memicu efek berantai berupa biaya transaksi tinggi yang menyedot potensi ekonomi hingga Rp30 triliun per tahun.

“Jika target laba konsolidasi Rp350 triliun pada 2026 ingin dicapai, tidak ada jalan lain selain integrasi.

“Membiarkan mereka jalan sendiri-sendiri sama saja memelihara kerugian,” ujarnya.

Mengapa PT Pos?

Menjawab keraguan publik mengenai penunjukan PT Pos Indonesia sebagai induk holding, Mahendra memberikan perspektif strategis.

Menurutnya, kekuatan PT Pos bukan pada kondisi finansialnya saat ini, melainkan pada aset intagible dan jaringan fisik yang tak tertandingi.

Dalam teori Resource-Based View, Mahendra menjelaskan bahwa PT Pos memegang kunci last mile delivery dengan 4.000 kantor cabang hingga ke pelosok desa.

Infrastruktur itu adalah harta karun yang selama ini tidur karena manajemen yang terfragmentasi.

“Kelemahan kita selama ini adalah ego sektoral. Darat, laut, dan udara jalan sendiri.

“Jika Danantara mampu menyatukan aset Pelindo, Pelni, dan logistik udara dalam satu nafas, kita bicara soal Cost Leadership.

“Harga bisa ditekan, dan dominasi swasta otomatis akan tertantang,” analisisnya.

Belajar dari Temasek, Tinggalkan Mental Lama

Mahendra juga mengajak publik melihat peta logistik global.

Ia menyarankan Indonesia meniru model bisnis Temasek di Singapura atau DP World di Uni Emirat Arab yang sukses menguasai rantai pasok strategis, ketimbang berkaca pada Filipina atau Yunani.

Ia mengingatkan, biaya logistik nasional yang masih bertengger di angka 14 persen dari PDB adalah beban berat bagi daya saing produk lokal di pasar global.

Target menurunkan angka tersebut di bawah 10 persen dinilai mustahil tanpa adanya holding logistik yang kuat.

Namun, Mahendra menutup analisisnya dengan sebuah peringatan.

Struktur organisasi hanyalah cangkang. Tanpa reformasi kultural, merger raksasa ini hanya akan menjadi macan kertas.

“Transparansi yang dibawa Dony Oskaria harus dibarengi revolusi mental di tingkat pelaksana.

“Kalau mental asal bapak senang dan etos kerja lamban masih dipelihara, merger ini tak akan banyak berarti,” pungkas Mahendra.